Kresnayana: Indonesia Butuh Generasi Mandiri, Bukan Pengekor

Kresnayana: Indonesia Butuh Generasi Mandiri, Bukan Pengekor
Ockto Baringbing (comic writer), Sunny Gho (managing director Kosmik Publishing), Faza Meonk (Founder PIONICON), Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, pada acara Perspective Dialouge di Radio Suara Surabaya, Jumat (21/8/2015). Arya wiraraja/enciety.co

Peran serta membangun perekonomian bangsa Indonesia harus dimulai sejak usia muda. Para generasi muda sendiri diharapkan harus menyadari bahwa di tangan merekalah nasib suatu bangsa ditentukan.

“Generasi muda harus menyadari agar mereka semakin baik lagi untuk memajukan bangsa ini agar lebih baik lagi,” tegas Chairperson Enciety Consult Business Kresnayana Yahya saat berbicara di Perspective Dialogue bertajuk Industri Kreatif Surabaya untuk Indonesia di Radio Suara Surabaya, Jumat (21/8/2015).

Dosen statistik ITS Surabaya ini mengacungi jempol terhadap kiprah anak muda yang mampu mewujudkan kemandirian tanpa menjadi pengekor bangsa lainnya.

Dirinya mengingatkan, bila diimbangkan harmoni daerah Indonesia yang mencapai 17 ribu pulau dan bisa menyatu akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju.

“Saya yakin revolusi mental anak muda akan setuju bahwa Indonesia untuk dunia dan bukan hanya jadi pengekor,” lanjutnya.

Negeri Indonesia ini sendiri sangat membutuhkan identitas dan menyebarkan energi positif ke dunia. Di Indonesia tercatat ada 130 juta anak muda atau yang berusia di bawah 28 tahun. Mereka diminta jangan hanya penurut dan pengekor saja.

“Ledakkan semangat dan anak muda karena negara ini butuh tokoh idealis dan karakter yang gak hanya omong masa lalu,” tuturnya.

Dalam perbincangan ini hadir tiga narasumber generasi muda yang mampu berkiprah di dunia Internasional. Mereka adalah Ockto Baringbing seorang comic writer, Sunny Gho Managing Director Kosmik Publishing dan Faza Meonk Founder dari PIONICON.

Faza Meonk sendiri adalah pembikin komik Indonesia yang karyanya telah diunduh sebanyak 4 juta di Line dan sudah dibuat stiker. “Anak muda harus bisa bermimpi menjadi ikon yang dikenal Indonesia,” kata Faza yang diikuti penggemarnya di facebook sebanyak 300 ribu orang ini.

Menurut dia, awal membikin komik secara iseng saja. Pada tahun 2012, dirinya ingin menghidupkan MarJuki (tokoh dalam komik red) dan terus berkembang melalui social media. Faza sendiri melihat banyak anak muda yang suka pergunakan media sosial.

“Caranya adalah menyentuh anak muda itu harus mencerminkan diri sendiri. Jarang gambar untuk politik atau apapun karena mereka sudah bosan,” ujar Faza.

Sementara itu, Ockto Baringbing yang sukses menelurkan comik writer di Jepang mengaku dirinya terispirasi dari pengalamannya yang dulunya bekerja di media televisi dan mendengarkan rekan-rekannya yang lain.

“Cerita komik saya yang bekerja di  tv pemerintahan Jepang dan tokohnya digambarkan dari gak senang menjadi senang kerja di media,” aku Ockto yang menang di Jepang pada tahun 2010 dan karyanya masuk di Kyoto Mangaa Museum.

Dirinya menceritakan bila bekerja jarang untuk merencanakan. Namun langsung meraih pinsil dan kertas untuk menggambar ide-ide yang ada di kepalanya. Ide-idenya sendiri kebanyakan bercerita mengenai keunikan dan budaya Indonesia. “Sekarang aku ingin menggambar tentang kota Suroboyo dan keanekaragamannya,” ujar periah kompetisi gambar komik Indonesia ini.

Sunny Gho menceritakan pada tahun1980 an hingga hari ini komik Eropa dan Amerika masuk ke Indonesia. Dan pada tahun 1989 giliran negara Jepang yang juga meramaikan komik di negeri ini.

“Dan baru Korea masuk ke Indonesia. Dan ini kita (komik Indoensia) baru beraksi. Terlambat sebenarnya tapi lebih bagus bergerak terus agar tidak tertinggal lagi,” kata Sunny.

Dirinya akhirnya tergerak untuk menyatukan teman-teman pembuat komik dan tahun 2002 baru ketemu penggiat di Surabaya dan Solo. Sunny sendiri mengimpikan negara Indonesia mempunyai industri seperti luar negeri. “Mereka tidak perduli dari negara mana yang penting bagus,” ujarnya.

Justru negara Indonesia mempunyai cerita dan tokoh yang berbeda dengan negara Jepang. Akhirnya negara-negara ini merasa suka dengan produk anak muda Indonesia. “Intinya jangan sampai meniru. Buatlah dulu Surabaya untuk Indonesia,” terusnya.

Industri kreatif Surabaya yakin potensinya besar sekali dan jangan hanya terpusat di Ibu Kota Jakarta saja. Karena menurutnya talent di Indonesia sangat banyak.

“Di media sosial banyak tinggal cari saja mulai fb, twitter instagram dan lainnya. Pasti anak muda tahu media sosial,” papar dia. (wh)