Kresnayana: Indonesia Berpotensi jadi Ujung Tombak ASEAN

Kresnayana: Indonesia Berpotensi jadi Ujung Tombak ASEAN
OPTIMISTIS : Kresnayana Yahya meniup lilin menandai ulang tahun ke-65 di Kantor Enciety Business Consult. Avit hidayat/enciety.co

Potensi Indonesia sebagai ujung tombak di Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sangat besar. Karena itu, pembangunan lima tahun ke depan akan sangat menentukan sejauh mana Indonesia bisa menembus pasar ASEAN.

Hal itu ditegaskan Chairperson Enciety Business Consult (EBC) Kresnayana Yahya saat merayakan ultahnya ke-65 tahun dan halalbihal Keluarga BesarEBC di Surabaya, Senin (4/8/2014).

“Beberapa ahli dan ilmuwan dari negara ASEAN memandang kita sangat berperan dalam membangun Indonesia, khususnya di Jawa Timur dan Surabaya,” ujarnya.

Dia lalu menjelaskan, sejak didirikan pada 1997 lalu, EBC telah mengukuhkan jati diri dengan ilmu dan pengetahuan mampu memberikan kontribusi besar buat pembangunan di Indonesia.

”Di era perkembangan otonomi daerah pada 1999, kita telah memberikan pelatihan pada anggota DPRD di Jawa Timur pentingnya konsep untuk menentukan tujuan,” ujarnnya.

Saat ini, sambung Kresnayana, seyogianya fokus dan konsentrasi pembangunan bukan hanya pada tataran konsep saja. Kita harus mampu melakukan perencanaan dan mendorong pembangunan lebih baik. ”Proyeksi kita harus bisa menembus ASEAN,” cetusnya.

“Kuncinya harus mulai memproyeksikan diri untuk membuat problem solving. Kita tidak harus melulu memikirkan konsep, tapi juga harus turut andil dalam pemecahan permasalahan,” imbuh Kresnayana.

Kata dia, faktor pendorong percepatan perubahan tidak cukup hanya berbekal disiplin ilmu, tapi harus keluar ke lapangan. Fakta di lapangan lebih menentukan dibanding teori.

“Lihat saja, orang luar negeri berpikir bagaimana bisa memasukkan barang dagangannya ke Indonesia. Padahal di Indonesia kurang apalagi, lahan dan sumber daya sangat mumpuni. Saatnya kita juga berperan untuk mengekspor barang kebutuhan orang luar,” ujar dia.

Sementara itu, untuk melihat proyeksi lima tahun pembangunan Indonesia di kelas ASEAN ke depan, Kresnayana juga mengingatkan pentingnya kualitas pendidikan.

”Saya menemui fenomena, banyak anak didik tidak menghargai gurunya. Bahkan, menganggap gurunya bodoh dan kurang berpengetahuan. Akibatnya, banyak institusi pendidikan yang tidak dihargai oleh masyarakat,” ucapnya sedih.

Dengan pendidikan yang baik, terang dosen statistika ITS itu, kita akan mampu mendongkrak perekonomian nasional lebih baik. “Dunia telah beralih, dengan ilmu kita dapat menghasilkan uang,” ujarnya.

Kresnayana juga mengingatkan, begitu banyak tugas untuk memajukan manusia dan membangun kecerdasan lokal sebagai kekuatan peradaban masa depan.

“Mari mendorong lebih banyak lagi teman menjadi ilmuwan yang peduli dan berani menjadi pelopor untuk bekerja dengan pemikiran, ketrampilan, dan keahlian keilmuan. Tetap tebarkan pengaruh untuk senantiasa memajukan bangsa,” pungkasnya. (wh)