Kresnayana: Bukan Hanya Upah Naik, Buruh juga Butuh Peningkatan Skill

Kresnayana: Bukan Hanya Upah Naik, Buruh juga Butuh Peningkatan Skill
Sekretaris DPD SPSI Jatim Sutrisno dan Kresnayana Yahya saat mengisi acara Prespective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (3/10/2014).

Tenaga kerja di Indonesia dipastikan mendambakan kenaikan gaji atau upah mereka setiap tahunnya. Penentuan upah minimum ini ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh, meningkatkan produktivitas, dan memajukan perekonomian. Karena itu, penentuan upah minimum yang adil adalah upah yang melihat kedua sisi secara seimbang, yakni sisi kesejahteraan buruh dan sisi kesejahteraan perusahaan.

“Bila upah meningkat pegawainya senang, maka bisnis perusahaan akan naik,” kata Chairperson Enciety Business Consult Surabaya Kresnayana Yahya dalam Prespective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (3/10/2014).

Menurut Kresnayana, tugas pemerintah baik daerah dan pusat untuk meningkatkan pelayanan publik. Dengan meningkatnya perhatian pemerintah kepada para pelaku dunia usaha, maka para pengusaha tersebut juga tidak berat hati untuk menaikkan upah karyawannya.

“Tugas pemerintah untuk mengakomodasi apa yang akan diberikan pengusaha kepada para pekerjanya. Karena pelaku usaha kan sudah bayar pajak,” ujar dosen Statistika ITS Surabaya ini.

Menurut Kresnayana, wajar bila upah buruh tersebut naik dikarenakan banyaknya harga kebutuhan yang naik. Ia juga mengharapkan agar para pemberi kerja selain menaikkan upah, juga memberikan pelatihan untuk meningkatkan ketrampilan pegawainya

“Bila para pekerja tidak mau dilatih atau meningkatkan diri, maka bisa saja mereka tergerus dengan yang muda. Apalagi ini menjelang perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015 esok,” sahutnya.

Sementara itu, Sekretaris DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jatim Sutrisno mengatakan, para buruh di bawah oraganisasinya pasti meminta kenaikan gaji setiap tahunnya.

Menurut dia, kenaikan itu wajar karena ada dasarnya yaitu harga-harga kebutuhan juga telah naik terlebih dahulu. “Dan hingga kini kesejahteraan buruh atau kami belum bisa dikatakan baik,” tandas Sutrisno.

Ia mencontohkan nasib pekerja yang belum bisa dikatakan layak hidup di Kota Surabaya. Seperti pekerja cleaning service di kantor-kantor swasta. Padahal UMK yang telah digedok oleh Gubernur Jatim Soekarwo kenyataannya belum bisa diterima dengan baik oleh para pengusaha.

“Untuk pemberian cotton bud saja pengusaha kadang masih mikir untuk memberikannya kepada para pekerjanya. Ini yang sangat kami sesalkan,” kata Sutrisno.

Harga barang di Indonesia yang tidak stabil juga membuat para buruh merasa kekurangan terus dengan upah yang mereka terima setiap bulannya. Yang terpenting sebenarnya para buruh tidak begitu meminta yang besar. Cukup dipenuhinya upah mereka untuk membeli sandang, pangan, dan papan. (wh)