Kresnayana Bekali Mahasiswa S2 Statistika ITS di Koridor Siola

Kresnayana Bekali Mahasiswa S2 Statistika ITS di Koridor Siola

Mahasiswa S2 Statistika ITS bersama Kresnayana dan peneliti Enciety Business Consult di Koridor Siola. foto: arya wiraraja/enciety.co

30 Mahasiswa S2 Statistika ITS Surabaya melakukan sharing & discussion bareng pimpinan dan peneliti Enciety Business Consult (EBC). Kegiatan tersebut berlangsung di Koridor Co-Working Space Siola, Selasa (19/11/2019).

Hadir di pertemuan tersebut, Chairperson EBC Kresnayanan Yahya, General Manager Don Rozano, dan dua peneliti Unung Istopo Hartanto dan Dwi Setyaningsih.

Ke-30 mahasiswa S2 Statistika ITS tersebut ingin mengetahui sejauh mana research, consulting & training yang dilakukan EBC. Berikut marketing analytics dan data visualization.

Dalam pemaparannya, Kresnayana menjelaskan jika statistik, big data dan data science tidak melulu bicara masalah mengolah data. Ketiga hal ini punya cakupan lebih luas. Salah satunya, mempengaruhi kebijakan yang efeknya sangat berdampak pada perkembangan masyarakat.

“Profesi statistik dalam konteks data science adalah penghasil knowledge. Jadi kita tidak boleh lagi menempatkan diri sebagai tukang olah data. Sebagai data science, kita harus dapat merancang sebuah sistem dan dapat mempengaruhi kebijakan,” cetus Kresnayana.

Kresnayana lalu mencontohkan bunga tabebuya kini bermekaran di jalanan kota Surabaya. Menurut dia, awal ditanam oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini diperuntukkan untuk menurunkan suhu udara di Surabaya.

“Menanamnya tidak sembarangan. Ditanaman dengan jarak tanam 30 meter antarpohon. Selain itu, pilihan warna bunga juga disesuaikan, jadi tidak seragam. Ada warna merah, putih, kuning dan lain sebagainya,” terang Kresnayana.

Artinya, imbuh dia, hal ini telah dirancang sebelumnya. Pun tabebuya diprediksi mekar pada bulan Oktober, namun sekarang mekar pada November.

“Selain sebagai penururkan suhu, tanaman ini juga dapat dijadikan objek wisata menarik,” tegas Kresnayana.

Kresnayana menyarankan kepada para mahasiswa S2 Statistika ITS supaya dapat memiliki platform. Ini dibutuhkan untuk menghubungkan antara produsen dan konsumen.

“Jadi, ketika Anda telah punya produk statistik, harus ada yang menghubungkan. Hari ini platform merupakan saluran yang pas. Karena arah kedepan semuanya terkait platform,” tandas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia, itu.

Sementara itu, Don Rozano menerangkan beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan Mahasiswa S2 Statistika ITS Surabaya di masa depan. Don menyebut, dalam konteks pembangunan, Kota Surabaya saat ini menggunakan prinsip statistika, big data dan data science.

“Ada tiga pendekatan yang dilakukan Kota Surabaya dalam penerapannya. Pertama, dengan memahami consumer. Kedua, memanfaatkan perkembangan digital, dan ketiga, pembangunan infrastruktur,” ujar dia.

Saat ini, terang Don, kita dihadapkan dengan era fast moving. Era keterbukaan yang dibawa perkembangan teknologi. “Jadi bukan fast moving consumer goods. Artinya, kita harus lebih peka dengan perubahan pola usaha dan memanfaatkan perkembangan perubahan tersebut,” papar dia.

Don juga menyampaikan, jika dunia ini akan berkembang jika peneliti dan pengguna data statistika makin kreatif. Di setiap masa ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kunci penguasaan ekonomi. Hal ini dibuktikan dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB) dunia yang konstan setiap tahunnya.

“Dalam bidang teknologi inilah saya harap teman-teman statistika ini dapat lebih kreatif lagi. Jadi, bidang teknologi ini salah satu peluang yang harus dimanfaatkan. Salah satu contohnya, machine learning. Saya yakin, jika kawan-kawan dapat mengembangkan teman-teman statistik dapat mengubah masa depan,” pungkasnya. (wh)