KPK Kesulitan Buka Rumah Fuad Amin di Surabaya

KPK Kesulitan Buka Rumah Fuad Amin di Surabaya
Rumah dua lantai milik Fuad Amin di Jalan Kupang Jaya 4/2 , Surabayayang digeledah KPK. umar alif/enciety.co

Penggeledahan rumah Ketua DPRD Bangkalan 2014-2019 Fuad Amin hingga kini masih terus berlangsung. Rumah yang berada di jalan Raya Kupang Jaya tersebut masih nampak tertutup.

Sebelumnya petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus membuka pintu gerbang dengan mengundang tukang las. Juga memanggil tukang kunci untuk membuka pintu rumah tersebut pada pukul 09.00.

Andreas, salah seorang petugas keamanan di Raya Kupang Indah, mengatakan petugas KPK nampak kesulitan membuka pintu rumah tersebut.

“Tadi datang tukang las dan tukang kunci untuk membuka pintu dan pagar rumah tersebut,” kata Andreas kepada wartawan, Kamis (4/12/2014).

Seperti diberitakan, mantan Bupati Bangkalan II periode Fuad Amin ditangkap oleh KPK pada Selasa (2/12/2014) dinihari. Dari penangkapan ini, KPK menyita uang Rp 700 juta dan Rp 4 miliar dari kediaman Fuad Amin di Bangkalan

Menurut informasi yang dihimpun, rumah ini dibangun tahun sekitar tahun 1993 dan ditempati Fuad sejak tahun 2001 hingga 2007, bersama isteri dan anaknya Muhammad Ibnu Makmun. Setelah itu, rumah tersebut dibiarkan kosong.

Sementara itu, penyidik KPK juga menggeledah tiga tempat di Bangkalan, Madura yang diduga terkait dengan kasus korupsi yang melibatkan bekas Bupati Bangkalan itu.

Penyidik menggeledah rumah Fuad Amin di Jalan Raya Saksak, Pendopo Bangkalan dan sebuah butik di Jalan Teuku Umar, Bangkalan.

Pengamanan aparat kepolisian di sejumlah lokasi tersebut pun dilakukan. Sebanyak dua SSP Sabhara Polres Bangkalan, 35 anggota Gegana Polda Jatim, dan anggota brimob Polda Jatim diterjunkan untuk pengamanan proses penggeledahan itu.

Wakapolres Bangkalan, Kompol Yanuar Herlambang yang memimpin pasukan itu mengatakan, pengamanan ini ditujukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan terjadi selama proses penggeledahan berlangsung.

KPK telah menetapkan tiga orang tersangka dalam perkara ini. Mereka adalah Ketua DPRD Bangkalan, Fuad Amin Imron; Ajudan Fuad yang bernama Rauf serta Direktur PT Media Karya Sentosa, Antonio Bambang Djatmiko. Fuad dan Rauf diduga sebagai pihak penerima suap, sedangkan Antonio diduga sebagai pihak pemberi suap.

Fuad dan Rauf yang diduga merupakan sebagai pihak penerima dalam perkara ini disangka telah melanggar Pasal 12 huruf a, Pasal 12 huruf b, Pasal 5 ayat 2, Pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Sementera Antonio Bambang Djatmiko yang diduga sebagai pemberi suap dikenai Pasal 5 ayat 1 huruf a, Pasal 5 ayat 1 huruf b serta Pasal 13 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana. (via/ram/wh)