KPK Berharap Anas Dihukum Minimal 15 Tahun

 

KPK Berharap Anas Dihukum Minimal 15 Tahun

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengharapkan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (KPK) akan memvonis Anas Urbaningrum dengan pidana penjara selama 15 tahun, sebagaimana tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. “Kami berharap Hakim akan sependapat dengan tuntutan JPU bahwa Anas telah terbukti melakukan korupsi dan pencucian uang sebagaimana dakwaan, serta karena itu menjatuhkan hukuman yang paling maksimal sesuai kesalahannya,” kata Bambang.

Anas, kata Bambang layak divonis maksimal lantaran fakta di persidangan menunjukan Mantan Ketua Umum Partai Demokrat tersebut telah melakukan korupsi. Menurut Bambang, Anas telah membeli Anugrah Group, mendapatkan gaji, penghasilan serta fasilitas dari korporasi tersebut.

Anas, papar Bambang juga terbukti mengkonsolidasi kantong uang dari fee berbagai proyek di BUMN dan lainnya serta melakukan pencucian uang.

Fakta persidangan lainnya, yaitu berupa kesaksian Bertha Herawati, politisi Partai Demokrat dan sejumlah saksi lainnya yang menyebutkan bahwa Anas terbukti punya ambisi menjadi Presiden dan menjadi Ketua Partai sebagai tahap awalnya. “Langkah awal membeli Hotline Advertising seharga Rp52 miliar. Ada beberapa bukti elektronik seperti BBM yang konfirmasi hal itu,” kata Bambang.

Kemudian Bambang menjabarkan Anas telah terbukti bersama-sama Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazarussin bergabung dalam Anugrah Grup untuk menghimpun dana-dana yang kemudian berubah menjadi Permai Grup.

Anas juga terbukti membeli saham 30 persen pada 1 Maret 2007 dari Nazaruddin dengan dibubuhi cap jempol yang identik sama dengan Anas sesuai Pusanafis Bareskim. “Anas juga terbutki menerima Camry dan Harier dan biaya-biaya lainnya dari Anugrah Grup ” ungkap Bambang.

Anas pun terbukti menyuruh Nazaruddin melarikan diri ke Singapura sesuai keterangan staf Nazaruddin, Clara Mauren dan Neneng Sri Wahyuni, istri Nazaruddin.

Anas bersama istrinya Attiyah Laila terbukti membuat dokumen yang dimundurkan tanggalnya seolah mengundurkan diri dari PT Dutasari Citralaras sejak tahun 2009. Hal ini ditopang oleh Mahfud Suroso yang menyuruh bakar dokumen-dokumen dan juga menyuruh saksi Rony Wijaya untuk cabut keterangan.

Anas juga mendapat dana dari Mahfud Surso sesuai keterangan Yanto supir Mahfud yang diberikan pada Ryadi supir Anas.

Anas juga membuka kantung logistik yang berasal dari BUMN. Permai dapat fee sebesar 7-22 persen sejak 2009-2010 yang dicatat Yulianis dengN nilai mendekati Rp 1,1 triliun.

Anas ternyata berperan selaku anggota DPR dalam pengurusan proyek yang jadi mitra kerja Komisi X sekitar Rp 118 miliar lebih, yaitu penerimaan dari PT Adhi Karya sekitar Rp 2,3 miliar; dari Nazaruddin sebesar Rp 84 miliar untuk persiapan pencalonan Ketua Umum; dan Harier, Vellfire dan penerimaan lain.

“Anas terbukti menggunakan dana-dana tersebut juga untuk membeli aset dan kekayaan baik berupoa tanah maupun bangunan, yaitu membeli beberapa tanah dan bangunan di Duren Sawit, membeli tanah seluas 7870m2 di DI Panjaitan Yogyakarta dan membeli beberapa tanah di Bantul dan lainnya,” kata tutup Bambang. (bst/ram)