KPK Ajak Mahasiswa Belajar Anti Korupsi

KPK Ajak Mahasiswa Belajar Anti Korupsi
Sosialisasi masyarakat di Gedung Graha ITS Surabaya, Sabtu (2/4/2016). foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Kesadaran membangun anti korupsi di dalam diri diperlukan sejak dini. Harapan itulah yang coba disampaikan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo kepada masyarakat saat acara sosialisasi anti korupsi di Gedung Graha Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Sabtu (2/4/2016).

Dari data KPK yang disampaikannya, korupsi kasus tertinggi yakni dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebanyak 96 orang, Menteri dan kepala lembaga sebanyak 23 orang, Duta Besar sebanyak 4 orang, Gubernur sebanyak 16 orang, Wali Kota dan Bupati  sebanyak 49 orang.

Untuk modus korupsi yang sering terjadi yakni kasus penyuapan sebanyak 224 kasus, pengadaan barang dan jasa sebanyak 142 kasus, perijinan sebanyak 19 kasus, pungutan sebanyak 20 kasus dan penyalah gunaan anggaran sebanyak 44 kasus.

“Terhadap lembaga yang paling terkena kasus korupsi yakni parlemen, polisi, penegak hukum dan partai politik,” kata Agus Rahardjo.

Selain itu, Agus melihat ada perubahan pola hidup masyarakat dari golongan bawah menuju golongan menengah ke atas mengalami peningkatan. Pendapatan per kapita dan kelas menengah naik 4 kali lipat dari tahun 2010-2014.

Ia mencontohkan, kebutuhan kelompok menengah mengalami kenaikan seperti permintaan terhadap mobil tiap tahun membutuhkan 1,3 juta unit, sepeda motor sebanyak 9 juta unit juga antrian naik haji kini hingga 17 tahun di Palembang.

“Itu menunjukkan perubahan ekonomi masyarakat kita semakin baik, namun juga memicu meningkatnya gaya hidup. Bila tidak terawasi maka gaya hidup memacu terjadinya korupsi,” ujarnya.

Agus yang baru menjabat 3 bulan ini bersama KPK akan melakukan strategi pemberantasan korupsi dengan 3 hal yakni represi, perbaikan sistem, mengajak masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi.

Mahasiswa diharapkan bisa memberikan sosialisasi anti korupsi tidak hanya didalam lingkup kampus namun juga dilingkungan keluarga dan masyarakat. Kemudian membangun organisasi mahasiswa yang profesional, transparan, dan akuntabel.

“Mahasiswa diharapkan mampu mengawal pelayanan publik untuk bisa transparansi kepada pemerintah,” jelasnya.

Ia menilai, kampus ITS sebagai kampus anti korupsi oleh karenanya harus membangun karakter inti yang terintegritas mulai dari komitmen pada kepentingan publik, tidak korupsi, konsistensi dalam tujuan, eksperimen/praktek anti korupsi dan kompetensi yang mendukung.

“Mulailah dari sekarang belajar bersikap anti korupsi nanti ketika anda lulus, sikap antikorupsi sudah terbiasakan apalagi memasuki dunia kerja,” pungkasnya. (wh)