Korban Erupsi, Ribuan Petani Tembakau Jember Minta Ganti Rugi Pemerintah

Korban Erupsi, Ribuan Petani Tembakau Jember Minta Ganti Rugi Pemerintah
foto: suarasurabaya.net

Puluhan ribu petani tembakau Na Oogst  dan Vor Oogst di Kabupaten Jember, korban erupsi Gunung Raung, minta pemerintah memperlakukan mereka sama seperti korban luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Mereka minta pemerintah segera turun tangan menyelamatkan dan memberi ganti rugi, hasil panen tembakau petani yang tidak diserap pabrikan dan pasar tradisional.

Sekitar 6.800 hektar dari total sekitar 14.000 hektar pertanian tembakau di wilayah Kabupaten Jember, mengalami gagal panen akibat bencana erupsi pada bulan Juli tersebut. Itu terdiri dari 4.900 hektar lahan tembakau Vor Oogst dan 1.900 hektar lahan tembakau Na Oogst.

Jika dirata-rata mulai dari pengolahan lahan hingga panen diperlukan modal Rp 50 juta per hektar, maka diperkirakan kerugian petani tak kurang dari Rp 340 miliar akibat erupsi Gunung Raung.

Akibat terpapar debu vulkanik, harga jual tembakau terjun bebas dibandingkan tahun lalu. Ini karena di setiap lembar daun tembakau milik petani, melekat debu vulkanik Gunung Raung yang mengandung silica dan sulfur seberat sekitar 10 persen, atau dalam satu kilogram daun tembakau kering yang dipanen melekat sekitar 100 gram debu vulkanik.

“Kalau tahun lalu tembakau Kasturi milik saya ini masih laku dijual hingga Rp 4 juta per kuintal, sekarang ini hanya ditawar orang sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per kuintal. Itupun kalau ada yang mau menawar,” kata Abdurrachman, Ketua Asosiasi  Petani Tembakau (APT) Kasturi, di Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Minggu (20/9/2015).

Abdurrachman yang menanam tembakau Vor Oogst jenis Kasturi di satu hektar lahan miliknya, mengalami kerugian sekitar Rp 55 juta karena tidak menghitung sewa lahan pertanian. Jika dihitung dengan sewa lahan dan ongkos sortasi (memilah daun tembakau kering), kerugian petani mencapai Rp 75 juta sampai Rp 80 juta per hektar.

Kondisi ini dibenarkan oleh Ketua Kelompok Petani Tembakau Kasturi ‘Sumber Rejeki III’, Purnoto, di Desa Sukogidri, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. Purnoto yang juga kepala desa setempat mengaku tidak bisa menjual tiga ton panen tembakau Kasturi miliknya.

“Saya tanam tembakau Kasturi dua hektar pada bulan Mei lalu. Sampai sekarang semua masih menumpuk di gudang, karena tidak ada yang mau beli,” kata Purnoto, sambil menunjukkan tumpukan daun tembakau Kasturi kering miliknya yang penuh debu vulkanik.

Untuk proses mulai sewa lahan, pengolahan lahan, penanaman, panen, hingga sortasi tembakau miliknya, Purnoto mengaku menghabiskan modal sekitar Rp 75 juta per hektar. Jika ditambah dengan kerugian tembakau yang sudah dipanen, maka kerugian petani akan berlipat.

Yang paling parah dialami oleh petani tembakau Na Oogst. Para petani tembakau kualitas ekspor untuk rokok cerutu khas Indonesia ini, mengaku pasrah dan membiarkan daun tembakau milik mereka teronggok di dalam gudang.

“Bahkan, beberapa kawan petani ada yang memilih menebang pohon tembakaunya di lahan. Karena mereka sudah tidak punya uang lagi hanya untuk sekedar memanen. Mereka sudah pasrah,” terang Suwarno, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jember.

Saat ditemui di rumahnya di Desa Nogosari, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, Suwarno bahkan tidak tahu berapa total hasil panen daun tembakau Na Oogst miliknya. Ia memilih tidak menimbang, karena selain sudah tidak memiliki dana lagi juga merasa percuma.

“Kenapa harus ditimbang, kalau seluruh eksportir tembakau sepakat tidak ada yang mau membeli tembakau petani karena kena debu erupsi. Itu kan percuma juga,” ujar Suwarno.

Untuk tembakau jenis Na Oogst, tiap satu hektar lahan rata-rata menghasilkan hingga dua ton daun tembakau. Pada tahun 2014 lalu harga per kuintal tembakau jenis ini mencapai kisaran Rp 8 juta. Bahkan pada tahun 2012 sempat melonjak harganya mencapai Rp 12 juta per kuintal.

Namun kini tembakau yang menjadi trademark Indonesia di pasar negara-negara di Eropa dan Cina, tidak terbeli dan dibiarkan teronggok di gudang bahkan ditebang saat masih ada di lahan.

Pertemuan yang digagas DPRD Kabupaten Jember, Dinas Pertanian, kelompok eksportir dan para petani tembakau beberapa waktu lalu, menemui jalan buntu. Delapan eksportir yang biasa membeli tembakau petani sepakat tidak membeli tembakau jenis Na Oogst.

Menurut Abdurrachman, pihaknya sudah melaporkan kondisi ini kepada Gubernur Jawa Timur Soekarwo melalui Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Samsul Arifien. Pemprov Jatim menurut Abdurrachman akan memberikan bantuan kepada petani, namun sampai saat ini belum ada realisasi.

“Kami minta pemerintah berlaku adil. Ini kan masalah bencana alam. Bencana lumpur Lapindo saja bencana yang dibuat manusia mendapatkan kompensasi, kenapa kami yang disebabkan bencana alam tidak. Apalagi hasil pertanian kami memberikan sumbangan pajak cukup tinggi bagi negara,” kata Abdurrachman.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf  bahkan mengaku belum mendengar kerugian yang diderita oleh petani tembakau Jawa Timur ini.

“Saya malah belum mendengar itu. Katanya tidak ada masalah akibat erupsi Gunung Raung kemarin. Baik kalau begitu, saya akan jadwalkan melihat langsung ke sana,” kata Gus Ipul, panggilan akrab Wakil Gubernur Jawa Timur di ruang kerjanya, Kamis (17/9/2015).

Dari total produksi tembakau nasional sekitar 150 ribu ton, sekitar 85 ribu ton di antaranya diproduksi petani tembakau Jawa Timur. (wh)