Konsep 5 in 1 untuk Retail Shop

Konsep 5 in1 untuk Retail Shop

Kresnayana Yahya. foto:arya wiraraja/enciety.co

Untuk dapat bertahan dalam era digital, konsep 5 in 1 wajib dipahami dan disediakan pelaku usaha,. Khususnya para pelaku usaha retail shop.

“Jika pelaku usaha retail ini tidak bisa mencukupi konsep 5 in 1 dalam usahanya, ya siap-siap bakal makin menurun,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (25/1/2019). 

Kresnayana lalu menjelaskan, dalam konsep 5 in 1 ini didalamnya ada shop (belanja), eat (makanan), play (hiburan), work (kebutuhan) dan health (kesehatan.

Dia mencontohkan beberapa retail shop kecil. Di antaranya Alfamart dan Indomaret. Di retail shop tersebut, masyarakat dapat membeli dan membayar berbagai kebutuhan bulanan dan harian.

“Jadi tidak hanya beli makanan dan minuman. Dari mulai bayar tagihan air, listrik sampai cari tiket travel dan pesawat semua ada di sana,” katanya.

Seiring berkembangnya dunia digital, ekosistem usaha pun sudah berubah. Dulu, jika seseorang ingin berjualan harus membuka dan menaruh meja atau kursi di depan rumah untuk menggelar dagangan. Pembelinya dari sekitar rumah.

“Namun keadaan sekarang berbeda. Meski pun pintu rumah ditutup, pembeli bakal datang jika kita aktif menawarkan dagangan kita di Instagram, Facebook dan platform digital lainnya,” ujar pria yang mendapat julukan Bapak Statitistika Indonesia itu.

Perkembangan ini, sambung dia, juga diikuti dunia industri logistik. Ia mencatat, saat ini sedikitnya dalam sehari Rp 4-5 triliun uang berputar dalam transaksi online. Dari angka tersebut, 4-10 persen merupakan ongkos logistik.

“Jadi tidak heran jika saat ini makin banyak bermunculan perusahaan-perusahaan logistik baru untuk menyokong besarnya nilai transaksi dunia digital ini,” tegas Kresnayana.

Kresnayana juga menyoroti bisnis yang masih dikembangkan dengan cara lama. Menurut dia, perkembangan bisnis di dunia digital memabuh belum mengalahkan bisnis offline. Namun pertumbuhannya yang pesat santa layak dipertimbangkan.

“Memang jumlah transaksinya belum begitu besar dibanding bisnis offline. Namun volume transaksinya makin meningkat. Perkembangan bisnis online ini mencapai 87 persen per tahun. Jadi ya tidak heran jika dari bisnis online bisa buat perusahaan logistik sendiri, ya karena memang mereka makin besar,” terangnya. (wh)