Kisah Wulan Chawaty Berdayakan Warga Eks Lokalisasi Dolly

Kisah Wulan Chawaty Berdayakan Warga Eks Lokalisasi Dolly

Wulan Setyasih berbagi pengalaman di pelatihan Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda.foto:arya wiraraja/enciety.co

Berbagi tanpa pernah memikirkan balasan. Begitulah yang dilakukan Wulan Setyasih, owner Chawaty Collection. Perempuan yang tinggal di Jambangan Surabaya, itu hingga kini getol membantu memberdayakan warga eks lokalisasi Dolly.  

Ceritanya, Wulan punya keinginan mulia saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akan menutup lokalisasi Dolly, 2014. Wulan ingin memberi secuil kontribusi untuk ikut membantu warga bisa mencari duit secara halal.

Keinginan itu terwujud setelah tahun 2015, Wulan mendapatkan order pekerjaan membuat batik dalam jumlah yang cukup besar untuk acara PrepCom3 Habitat III tahun 2016. Waktu pengerjaannya kurang lebih 1 tahun.

“Mungkin ini rezeki dari kawan-kawan eks lokalisasi Dolly. Dulu, ketika mengisi pelatihan kewirausahaan di Kecamatan Sawahan awal 2014, saya pernah berniat dan berjanji, jika saya bisa membantu mereka pasti akan saya lakukan,” katanya dalam acara pelatihan Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda di Kaza City Mall, Minggu (17/3/2019).

Waktu itu, Wulan merekrut 52 orang eks lokalisasi Dolly. Wulan mengaku telah mempertimbangkan risiko yang bakal dihadapi saat memperkerjakan mereka. Pasalnya, warga eks lokalisasi sama sekali tak punya skill membatik.

“Pekerjaan ini nilainya mencapai ratusan juta. Jika ada kecelakaan yang berakibat produk ini gagal, saya sudah pertimbangkan. Waktu itu, saya hanya berharap supaya mereka ini bisa berpikir bekerja di luar pekerjaan hitam yang mereka lakukan selama ini,” jelasnya.

Wulan mengaku bersyukur karena mereka bisa sadar. Di antara mereka sempat mengatakan kalau penghasilan membuat handicraft ini lebih bernilai meskipun angkanya Rp 800 ribu sebulan.“Jelas angka itu jauh dibawah hasil mereka saat melakoni pekerjaan hitam itu,” tegas Wulan, lantas tersenyum.

Ketika mengerjakan order tersebut, Wulan harus menjaga kesabaran lebih. Pasalnya, banyak di antara warga yang sama sekali tahu tahu standar operasional prosedur membatik.

“Ya saat membuat kain batik itu masih saja ada yang merokok, lalu ada yang ngomong. Sehingga ada beberapa kain batik yang bolong. Batikannya belepotan alias gagal produksi. Namun, saya puas dengan apa yang telah saya lakukan ini,” cetus Wulan.

Wulan menegaskan kepada 52 orang pekerja eks lokalisasi Dolly jika dirinya percaya dan berharap supaya mereka bisa berkembang. Mereka harus bisa mendirikan usaha sendiri.

“Saya pesan pada mereka, mumpung masih bekerja dengan saya, manfaatkan dengan menyerap ilmu membatik ini. Mereka harus bekerja sendiri. Alhamdulillah, setelah empat tahun, saat ini 10 orang di antara mereka telah menjadi pelaku usaha dan punya beberapa pegawai. Sekarang mereka sering dapat order batik cap dari beberapa hotel ternama,” terang Wulan.

Kisah Wulan Chawaty Berdayakan Warga Eks Lokalisasi Dolly

Dua Tahun Belajar Lukis

Seperti lazimya pelaku usaha lain, Awal meristis pada tahun 2011, Wulan Setyasih belum menemukan pakem yang pas. Masih mencoba-coba. Yang  penting dapat duit. Itu saja.

“Saya sempat jualan jus dan handicraft. Kemudian setelah saya bergabung dengan Pahlawan Ekonomi, saya diingatkan Bu Nanik Heri (mentor) kalau bisnis harus fokus. Gak boleh dicampur-campur,” katanya.

Wulan mengamini nasihat itu. Ia pun berupaya fokus dengan menjual handicraft, khususnya gantungan kunci. Ada yang dijual eceran, ada juga yang dibuat berdasarkan pesanan. Hasil penjualan handicraft tersebut, imbuh Wulan, cukup buat ongkos produksi.  Sisanya untuk menambal kebutuhan sehari-hari.

Di sela waktu senggan , Wulan iseng-iseng melukis. Dia menggambar apa saja yang ada di pikirannya. Hasil lukisannya ternyata menarik perhatian mentor-mentor Pahlawan Ekonomi. Mereka bilang Wulan bakat melukis. Kalau itu diseriusi bisa menjadi kekuatan produknya.

Wulan makin bersemangat. Dia kemudian belajar melukis dari semua orang yang dianggap piawai. Bukan hanya di Surabaya, tapi juga di Malang. “Prosesnya sekitar dua tahun,” cetus perempuan berjilbab ini.

Dari kreativitas dan inovasinya, Wulan melahirkan kerudung lukis. Produk ini mendapat respons bagus dari khlayak. Lamat tapi pasti, Wulan berhasil menjual kerudung lukis bukan hanya di Surabaya, tapi juga di luar pulau. Bahkan ada juga yang dibawa ke luar negeri.

“Yang yang membawa sampai ke Eropa, saya senang sekali,” ucap perempuan yang rendah hati ini.

Wulan tidak cepat puas. Dia mencoba berinovasi lagi dengan membuat blangkon. Ia mengaku tertantang setelah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengajak pelaku usaha Pahlawan Ekonomi bisa bikin suvenir khas Surabaya .

“Waktu itu saya sempat galau. Saya ini dapat pesanan souvenir  yang jumlahnya tidak sedikit. Saya disuruh merancang produk yang erat kaitannya dengan budaya Surabaya. Saya bikin blangkon khas Surabaya. Saya minta bantuan Pak Agus Wahyudi (Humas Pahlawan Ekonomi) bikin story telling dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” kupas Wulan.

Hasilnya sungguh luar biasa. Wulan Chawaty mengaku banyak yang mengapresiasi dan membeli produknya. “Saya pernah jual ke turis di North Quay. Alhamdulillah, 50 blangkon dibeli terjual,” tegas Wulan, lantas tersenyum.

Wulan mengatakan yang terpenting dalam melakoni usaha adalah mampu memberikan yang terbaik. Artinya, apapun kondisinya, pelaku usaha wajib optimal memberi pelayanan kepada pelanggan.

“Saya itu beberapa kali diminta dadakan. Seperti Bu Ninik Made dan Bu Nanik Heri (mentor Pahlawan Ekonomi). Dua orang ini kalau pesan dalam jumlah banyak dan dadakan. Namun, dari situ saya sadar, kondisi semacam itu pasti bakal saya alami. Benar, jika ada pesanan dadakan dengan jumlah besar saya jadi bisa melayani,” papar Wulan yang pernah memenuhi permintaan souvenir senilai Rp 1,3 miliar tersebut. (wh)

Marketing Analysis 2018

1 komentar di “Kisah Wulan Chawaty Berdayakan Warga Eks Lokalisasi Dolly

Komentar di tutup.