Sekelumit Kisah Maskapai Pelat Merah Negara Lain

Sekelumit Kisah Maskapai Pelat Merah Negara Lain

Tak hanya PT Merpati Nusantara Airlines menghadapi masalah keuangan. Maskapai pelat merah negara lainnya juga kurang lebih mengalami kondisi sama dengan yang dihadapi BUMN ini.

Merpati hanyalah satu perusahaan penerbangan, di antara banyak airlines flag carrier berbagai negara mengalami kesulitan keuangan.

Namun bedanya, sebagian besar pemerintah di negara lain tak tanggung-tanggung dalam memberikan dukungan, ketika maskapai miliknya mengalami masalah keuangan.

Berikut adalah sejumlah maskapai penerbangan milik negara lain, pernah dan sedang menghadapi masalah keuangan sebagaimana dihadapi Merpati.

Japan Airlines (JAL)
Maskapai dimana sahamnya dimiliki Pemerintah Jepang ini mengalami kesulitan keuangan. Setelah perdebatan panjang, pemerintah negara tersebut menyuntikkan dana sebesar 3,54 miliar dollar AS atau hampir Rp 40 triliun pada 2012 guna menopang operasional JAL.

Terakhir dilaporkan, kinerja keuangan JAL telah membaik dan mulai mencatatkan keuntungan, meskipun masih tipis.

China Eastern Airlines
Maskapai milik Pemerintah China ini mengalami masalah keuangan akibat mengalami kerugian besar, saat krisis global pada tahun 2008. Hingga 2010, total modal telah disuntikkan mencapai 2 miliar dollar AS.

Hingga akhir September 2013, China Eastern berhasil membukukan laba bersih 463 juta dollar AS atau sekitar Rp 5 triliun.

Air India
Maskapai milik Pemerintah India ini nasibnya serupa dengan yang lain mengalami kesulitan keuangan. Memburuknya kinerja keuangan perusahaan penerbangan ini juga terkait dengan krisis global.

Akhirnya, pada 2012, New Delhi memutuskan menyuntik modal sebesar 4,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 57 triliun.

Malaysia Airlines
Maskapai negeri jiran ini sempat menghadapi turbulensi keuangan. Namun, perseroan memilih melakukan pencarian dana ke pasar melalui penerbitan saham baru (rights issue) guna meraup dana sebesar sekitar 1 miliar dollar AS (atau kurang lebih Rp 12 triliun).

Selain untuk memperkuat modal, Malaysia Airlines juga menggunakan dana tersebut untuk menambah armada.

Thai Airways
Maskapai ini pada 2010 mengajukan permintaan suntikan modal kepada Pemerintah Thailand sekitar 800 juta dollar AS. Namun hingga saat ini, kondisi keuangan perusahaan penerbangan ini belum sepenuhnya membaik.

Qantas
Maskapai Australia ini pada saat sekarang menghadapi kesulitan keuangan, setelah mencatatkan rugi cukup besar, yaitu Rp 3,2 triliun. Langkah diambil manajemen untuk menyelamatkan perusahaan adalah dengan memangkas karyawan. Perusahaan ini menuding Pemerintah Australia abai terhadap pasar industri penerbangan, karena membiarkan pasar industri ini dikuasai asing.

Alitalia
Perusahaan penerbangan milik Italia ini sedang menghadapi masalah keuangan. Opsi yang ditempuh untuk menyelamatkan perusahaan ini adalah menjual kepada investor. Tercatat, maskapai Abu Dhabi, Etihad Airways telah serius berminat membeli perusahaan penerbangan ini. (kom/bh)