Kisah Inspiratif Penjual Brownies yang Tangguh

Kisah Inspiratif Penjual Brownies yang Tangguh

Dwi Ardhi Nugroho.foto:arya wiraraja/enciety.co

Pengalaman pahit bakal membuat kita menjadi tangguh. Tidak gampang menyerah dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang berkembang makin pesat.

Hal itu juga dirasakan Dwi Ardhi Nugroho. Pria kelahiran Surabaya, 14 Februari 1972 itu, mengaku harus jatuh bangun merintis usaha jualan brownies. “Banyak pengalaman yang tidak mengenakkan,” katanya ditemui enciety.co, beberapa waktu lalu.

Ardhi mngaku memulai usaha dengan jualan brownies, September 2009. Modalnya dari pinjam uang temannya. Produk yang dibuatnya lalu ditawarkan ke teman, tetanga, dan orang sekitar rumahnya.

Ardhi sempat menawarkan browniesnya di lapak penjual kue basah. “Waktu itu, saya ketemu pedagang perempuan. Umurnya sekitar 50 tahun. Keturunan Tionghoa. Saya panggil dia Tacik, dan dia panggil saya Nyo,” ungkapnya.

Menurut Ardi, semula Tacik tidak masalah dititipi brownies. Namun ia minta diberi tester dulu agar tambah yakin. Ardhi tak masalah. Ia lantas membawa beberapa pack brownies, berikut tester-nya.

“Eh, waktu Tacik ngincip brownies saya, tiba-tiba dimuntahkan. Di depan orang banyak lagi. Dia bilang gak enak. Wis gak usah dijual di sini,” kenang Ardhi, pilu.

Ardhi tak percaya dengan kejadian tersebut. Dia nelangsa, lalu pergi dengan rona muka memerah. Brownies yang dibuatnya dibawa pulang lagi, tapi tidak untuk dijual. Ia bagikan kepada tukang becak dan fakir miskin.

“Saya baru sadar kalau duit untuk beli bahan pinjem teman saya. Saya telepon dia lagi. Untungnya, dia masih mau kasih pinjam uang lagi,” tutur pria kalem ini.

Ardhi ingin menghapus pengalaman itu. Dia berusaha sekuat tenaga membuat brownies yang terbaik. Beberapa resep yang dipelajari secara otodidak dicoba. Tak terkecuali pemilihan bahannya.

Usahanya tak sia-sia. Brownies buatannya laku. Pembelinya juga mulai bertambah. Ardhi menitipkan barangnya di kantin sekolah, toko, dan warung di kawasan Pucang. Karena masih cari pasar, Ardhi menjual browniesnya Rp 2,5 ribu per potong.

“Satu potong saya kemas dengan plastik. Alhamdulillah, hasilnya lumayan buat modal dan makan keluarga sehari-hari,” ujar lulusan S1 Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) itu.

Ditangkap Satpam

Bisnis, bagi Dwi Ardhi Nugroho, adalah pilihan hidup. Karenanya, apa pun caranya ia harus lalukan. Termasuk saat itu nekat jualan di mal. “Saya tidak punya duit buat sewa di mal. Saya jual brownies dengan mendatangi pegawai toko baju, handphone, aksesories, dan lainnya,” ungkapnya.  

Ketika jualan di mal, Ardhi berdandan layaknya pengunjung. Baju dan sepatu harus keren. Badan harus wangi. Barang dagangannya dibawa dengan tas plastik. “Jadi seakan-akan saya bawa barang belanjaan, bukan bawa barang dagangan,” ucapnya, lantas tertawa.

Hasilnya bagus. Dalam tiga jam, ia bisa jual 24 pak dengan harga Rp 55-100 ribu. Dari situ ia bisa meraup omzet Rp 1 juta lebih. Kegiatan itu bisa dilakukan dua kali dalam sehari. Namun dia juga waswas kalau ketahuan satpam. Karena aturannya tidak membolehkan.

“Saya pernah ditegur satpam, ditanya bawa barang dagangan. Saya bilang itu pesanan kawan yang kebetulan pelanggan saya,” kilah dia yang mengaku punya pelanggan setia di WTC, Plaza Marina Surabaya, Delta Plaza, Galaxy Mall, dan Ciputra World.

Setelah bertahun-tahun aman, Ardhi akhirnya ketahuan juga. Dia ‘ditangkap’ satpam.  “Saya kena di Galaxy Mall. Di Royal Plaza dan Tunjungan Plaza juga pernah,” akunya.

Satu kali ketangkap Ardhi bisa lolos, mesti tidak boleh jualan. Setelah  dua kali, Ardhi tak berkutik. Karena ternyata foto dia dipasang di pos satpam. Jadi, ketika dia masuk, pasti dicegat.

“Saya harus jujur. Tidak boleh merugikan orang lain. Orang lain harus sewa, saya tidak. Saya kemudian menghentikan kegiatan jualan keliling mal,” ujar dia.

Ardhi lantas melirik berbagai event seperti bazar dan pameran. Hasilnya positif. Dia menemukan pelanggan dan teman baru. Salah satunya para pelaku usaha anggota Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda.

“Saya baru tahu dan akhirnya bergabung.  Pelatihannnya di Kaza City Mall. Gratis. Cukup menunjukkan KTP. Saya bersyukur Pemerintah Kota Surabaya sangat peduli dengan warga yang ingin merintis usaha,” tutur Ardhi.    

Saat ini, usaha Ardhi terus merangkak naik. Akhir 2018, dia berhasil meraup omzet Rp 30 juta sebulan. Untuk produksi, Ardhi dibantu dua orang. Kapasitas produksinya 50 pak sehari.

“Saya juga jualan di medsos. Setiap hari puluhan order masuk. Alhamdulillah,” tegas pria yang melabeli produknya, Bite Ardy.

Ardhi juga mempersiapkan membuka. Kebetulan ada pengusaha yang mau berkongsi dengannya.” Sekarang saya sudah nambah dari 9 menjadi 12 varian. Mudah-mudahan semua lancar,” tutupnya. (wh)