Kisah Bu Anik yang Nekat Uji Nyali di Dolly

 

Kisah Bu Anik yang Nekat Uji Nyali di Dolly

Tak pernah terpikir di benak Anik Sriwatiah jika kedatangannya di kawasan lokalisasi Dolly-Jarak berujung tak mengenakkan. Niatnya berbagi ilmu menjahit keset kreatif buyar seketika. Bahkan saat acara pelatihan dibubarkan sebelum dimulai. Peristiwa itu terjadi pada akhir Desember 2013 silam di kawasan Putat Jaya.

Perempuan 41 tahun itu merupakan warga terdampak di eks lokalisasi Dupak Bangunsari. Anik diminta oleh Karang Taruna Kota Surabaya untuk mengisi pelatihan menjahit. “Saya datang atas nama pribadi, bukan dari Dinsos atau Bapemas. Saya kulo nuwun ke RT-nya, bu RT-nya mendukung. Tapi nggak tahunya ada media televisi yang tahu acara kami, akhirnya terekspos,” kisahnya kepada enciety.co.

Belasan laki-laki berbadan tegap lantas menemuinya, memburu Anik dengan pertanyaan bernada keras. “Acara opo iki? Kalau sampeyan masuk ke sini buat mbalon (melacurkan diri, Red), kami terima. Kerudunge sampeyan lepas, nggak apa-apa saya terima. Tapi di sini bukan tempat untuk pelatihan atau pengajian,” tutur Anik menirukan orang tersebut.

Ia akhirnya meminta maaf. “Ya saya minta maaf kalau saya ada salah. Saya bilang kalau tujuan kami ke sana positif. Kami nggak disuruh siapapun, nggak ada maskud apapun,” ungkapnya dengan nada ketakutan. Pria-pria itu lalu mengusirnya. “Cepat pergi dari sini. Kalau saya bunyikan sirine, habis kalian,” seru si pengusir.

Anik dan 5 orang anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang terdiri dari warga terdampak dan mantan Pekerja Seks Komersial (PSK) itu, bergegas angkat kaki. Ia juga anggota UMK binaan Pahlawan Ekonomi Surabaya. “Rasanya kayak uji nyali, mbak. Makanya itu saya trauma sekali,” ujarnya.

Saking takutnya Anik, 4 buah mesin jahit dan beberapa contoh keset yang ia bawa, tak sempat ia ambil kembali. “Uang bisa dicari, tapi kalau nyawa gimana? Anakku masih kecil,” katanya.

Anik mengungkapkan, sejatinya tak ada perbedaan antara penutupan lokalisasi Dolly dengan Dupak Bangunsari. Ia bahkan menegaskan, Dolly dan Jarak bisa menjadi pusat perekonomian baru seperti halnya Dupak Bangunsari. Dupak, sambung Anik, tak kalah besar dan berusia tua seperti lokalisasi yang didirikan nonik Belanda, Dolly van der Mart itu.

“Orang-orangnya harus disadarkan dulu, butuh waktu. Meskipun memang di sana (Dolly-Jarak, Red) itu antara warga pedagang, mucikari, dan PSK-nya lebih kompak. Kalau di Dupak Bangunsari, warganya pingin berubah. Saya yakin, kalau di sana justru bukan PSK-nya yang protes. Malah warga,” katanya. (wh)