Kisah Anak Surabaya yang Lolos Pendidikan Garuda Indonesia

Kisah Anak Surabaya yang Lolos Pendidikan Garuda Indonesia

Wali Kota Tri Rismaharini memberikan selamat kepada anak Surabaya yang terpilih mengikuti pelatihan Garuda Indonesia, Kamis (26/5/2016), foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Sebanyak 16 anak miskin di kota Surabaya berhak mengikuti pelatihan bidang peningkatan pelayanan jasa angkutan udara dan perawatan pesawat terbang di Garuda Indonesia. Mereka mengaku tidak menyangka dengan kesempatan langka ini.

Seperti diungkapkan Candra Sugiyo (20), warga Gadukan, Surabaya. Lulusan SMK Negeri 5 Surabaya tersebut tidak memimpikan bisa ikuti pelatihan seperti ditekuninya selama ini di sekolahnya.

“Sebelumnya saya bekerja di Perak untuk membantu ibu saya yang jualan makanan kecil sejak ayah saya meninggal dunia,” kata lulusan SMK Negeri 5 lulusan tahun 2015 jurusan teknik mesin tersebut, saat ditemui di Balai Kota Surabaya, Kamis (26/5/2016).

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengatakan, sejak ayahnya, Imam Sukoco, meninggal dunia praktis dirinya harus membantu ibunya, Suparti, untuk bekerja di ekspedisi Peral. Ia sadar pekerjaan itu bukan keahliannya. Chandra sendiri saat sekolah tergolong adai. Dia langganan juara di sekolah dengan menempati peringkat dua di kelas 1 dan 2, serta peringkat tiga di kelas tiga.

Nasibnya Chandra berubah sejak dirinya didatangi pihak Dinas Sosial (Dinsos) kota Surabaya di rumahnya. Tamu dari dinsos tersebut menawari ikut tes pelatihan yang diadakan Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya dengan Garuda Indonesia.

“Alhamdulillah, akhirnya cita-cita saya dan orang tua terkabul dengan keberhasilan mengikuti pelatihan ini. Nanti habis Lebaran saya akan berangkat ke Jakarta untuk mendapatkan pelatihan,” ujarnya.

Begitu juga dengan Faydlir Rachman (18). Ia juga mengaku tahu ada beasiswa Garuda Indonesia dari Dinsos Surabaya. Lulusan SMK Negeri 2 jurusan listrik ini kemudian mengikuti serangkaian tes. Meliputi tes fisik, psikotes, wawancara dan tes TOEFL.

“Awalnya mau kuliah jurusan elektro, tapi tidak punya biaya. Lalu ada pemberitahuan dari dinsos untuk mengikuti beasiswa dari Garuda Indonesia. Alhamdulilah bisa masuk,” kata Faydlir.

Warga Manukan Kulon ini, mengaku siap bila kelak bekerja ditempatkan di manapun. Apalagi, kedua orang tuanya, Ismono dan Siti Halimatusa’diyah juga mendukung dan memberikan restu doa. “Saya siap ditempatkan di mana saja,” cetusnya.

Salah satu instruktur Akademi Teknik dan keselamatan Penerbangan (ATKP) Pelda Damis Sayogi dari Lanud Surabaya, mengakui bila ke-16 siswa pelatihan tersebut diwajibkan untuk mengikuti pendidikan semi militer.

“Bangun pagi sampai tidur diatur sesusai peraturan dari ATKP. Dan mereka kini telah lulus untuk mengikuti pendidikan dari Garuda Indonesia,” kata Pelda Damis Sayogi dari TNI Angkatan Udara ini. (wh)