Ini Kiat Terhindar dari Money Game

Ini Kiat Terhindar dari Money Game

Dr Wasiaturrahma (Dosen Fakultas Ekonomi Unair), Kepala Bidang Anti Money Game Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) Bayu Riono dan Kepala Bagian Informasi dan Dokumentasi Kantor Regional 3 OJK Iwan Nicky Moses dalam seminar Membedakan Investasi dengan Money Game, di Restoran Mahameru Surabaya, Selasa (24/5/2016).foto:arya wiraraja/enciety.co

Masyarakat harus lebih bersikap bijak dalam menginvestasikan modalnya. Banyak lembaga yang menawarkan investasi yang menghadirkan keuntungan berlipat atau money game, namun hal tersebut harus lebih disikapi secara hati-hati oleh masyarakat.

“Memilih investasi harus sesuai kebutuhan. Jangan tergiur iming-iming keuntungan besar. Karena banyak kasus money game yang merugikan masyarakat hingga miliaran rupiah.” papar Dr Wasiaturrahma, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, ketika menjadi pembicara Seminar “Membedakan Investasi dengan Money Game” di Restoran Mahameru, Jalan Dipenogoro Surabaya, Selasa (24/5/2016).

Dia lalu menefaskan, pada pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016 kuartal pertama (yoy), tercatat kurang lebih mencapai 4,9 persen. Pertumbuhan ekonomi saat ini mengalami pelambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yakni 2015 lalu.

“Biasanya investasi yang tidak rasional adalah menjanjikan keuntungan yang besar bahkan cenderung tidak wajar, bahkan menjanjikan bonus barang mewah atau tur ke luar negeri, padahal mereka tidak memiliki izin usaha atau memiliki izin usaha tetapi tidak sesuai dengan kegiatan usaha yang dilakukan, masyarakat harus mengecek terlebih dahulu keabsahan di OJK maupun di lembaga resmi lainnya.” tegas dia.

Ia mengimbuhkan, jika biasanya masyarakat yang terjebak dalam investasi bodong itu cenderung tidak memperimbangkan langkah jangka panjang yang mereka dapatkan ketika melakukan investasi.

“Investasi itu bukan hanya sekedar menabung dan melakukan usaha yang berorientasi pada keuntungan, tetapi kita harus memiliki perhitungan yang matang dalam melakoninya,” urainya.

Kepala Bidang Anti Money Game Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), Bayu Riono mengungkapkan, bahwa menjamurnya bisnis MLM ilegal sudah sangat meresahkan. Hal itu juga berpotensi merugikan masyarakat bahkan berpotensi menggerus pasar MLM yang legal, tapi juga berpotensi merugikan masyarakat.

“Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) mencatat di Indonesia cuma 200 MLM yang bisnisnya berstatus resmi atau legal, sisanya bodong. Saat ini, yang dilakukan oleh APLI adalah melakukan edukasi dan sosialisasi ke asosiasi, organisasi dan kelompok-kelompok MLM yang ada di masyarakat,” ulasnya. (wh)