Kewirausahaan = Cara Mengemudi Mobil

motivasi sesaat

Kewirausahaan = Cara Mengemudi Mobil

Suwandono (mr.swand @yahoo.co.id)

“Swan, beberapa tulisanmu seperti mengajari orang untuk menjadi kaya, apa kamu sendiri sudah kaya?”

Saya terperangah ketika menerima pertanyaan itu dari seorang kolega yang membaca tulisan saya (seperti yang tengah anda baca saat ini). Pertanyaan itu terasa menyengat seiring kesadaran bahwa saya sendiri masih belum kaya. Namun, saya bisa memaklumi bila beberapa tulisan saya tentang motivasi kewirausahaan dipahami seperti pertanyaan kolega itu.

Banyak orang mengartikan ilmu kewirausahaan sebagai ilmu/cara untuk menjadi kaya, benarkah demikian? Sebenarnya, inti dari entrepreneurship bukan bertujuan mencetak seseorang menjadi kaya. Ilmu kewirausahaan lebih menitik beratkan pada pembentukan semangat, sikap/perilaku dan kemampuan dalam menangani suatu usaha mandiri yang dilandasi keyakinan dan watak luhur.

Keberhasilan berwirausaha tidak selalu identik dengan keberhasilan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan sebanyak mungkin. Menurut saya, kekayaan adalah efek positif dari usaha yang telah mencapai suatu prestasi. Dalam kewirausahaan, kekayaan memiliki sifat yang relative, baik dalam batasan nominal maupun dari penilaian tentang cara-cara memperoleh kekayaan itu.

Seorang wirausahawan yang berhasil mengumpulkan harta berlimpah belum dapat disebut sebagai wirausahawan sukses jika kekayaannya diperoleh dengan cara kotor. Belajar kewirausahaan/menjadi pengusaha hampir mirip dengan belajar mengemudi mobil. Ilmu mengemudi bukanlah ilmu tentang cara memacu kendaraan secepat mungkin. Namun, lebih menitik beratkan pada keterampilan menjalankan mobil dari posisi tidak bergerak, menjadi bergerak dan berjalan stabil, dapat bermanuver dengan baik sesuai kondisi jalan dan kemampuan mobil. Maju, mundur, menanjak dan menurun, berbelok dan berhenti, tanpa membahayakan/merugikan diri sendiri serta orang lain.

Keberhasilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat mobil itu dipacu, karena memacu mobil amatlah mudah dilakukan, tinggal menekan pedal gas sedalam mungkin maka mobil pasti melaju kencang.

Demikian pula dengan kewirausahaan, kekayaan tidak mutlak sifatnya, karena kekayaan bisa diperoleh dengan banyak cara, termasuk cara-cara kotor seperti menipu, kolusi yang merugikan orang lain, bisnis barang haram (narkoba) dan lain sebagainya.

Kewirausahaan lebih menitik beratkan pada bagaimana seseorang bisa memiliki keberanian untuk membangun suatu bisnis, mempunyai motivasi positif untuk maju, memulai atau mengelola usaha dengan cara-cara yang baik, tidak melanggar hukum dan norma-norma yang berlaku.

Sekecil apa pun ukuran/skala suatu usaha, jika dilandasi niat baik, dikelola dan dikembangkan dengan cara yang bersih, memiliki kemandirian dan membawa manfaat bagi orang lain, tentu lebih berharga dan dinilai berhasil dari pada sebuah perusahaan besar yang dalam pengelolaannya banyak bersinggungan dengan praktek-praktek kolusi yang pada akhirnya merugikan banyak orang.

Bagi saya, bisnis warung sederhana yang dijalankan dengan menjunjung tinggi kejujuran serta nilai kemuliaan jauh lebih hebat dan berhasil dibanding perusahaan jasa konstruksi besar yang dalam aktivitasnya selalu berkolusi dengan pejabat dalam pengaturan tender. Jika tujuannya hanya untuk memperoleh kekayaan yang besar, tentu profesi kontraktor nakal jauh lebih memberi peluang. Namun, menjalankan bisnis kotor macam itu sama saja dengan manantang Tuhan. Menganggap Tuhan buta dan tuli. Tidak bisa melihat dan mendengar praktek kotor yang dilakukan.

Pilihan untuk menjadi wirausahawan yang baik atau buruk, sepenuhnya berada di tangan masing-masing individu. Namun, ilmu kewirausahaan selalu mengajarkan pada kita agar dapat menjalankan aktivitas usaha dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip dasar budi pekerti yang baik/luhur serta tidak melanggar aturan serta norma yang berlaku.

Bagaimana kalau kondisi persaingan mengharuskan pelaku usaha mengikuti arus yang menghalalkan cara-cara kotor?

Pertanyaan macam itu tentu sering kita dengar jika menyangkut bidang usaha tertentu, tetapi dengan mengacu pada pengertian “Wira” yang berarti pejuang/patriot/pahlawan, seyogyanya cara-cara kotor itu tetap harus dihindari, meskipun dengan resiko harus berusaha lebih keras agar tetap dapat menuai keberhasilan/memenangkan persaingan.

Saya tetap memiliki keyakinan bahwa jika kita mengelola/menjalankan usaha tanpa melakukan cara-cara yang kotor (kolusi, trik negatif, dan sejenisnya), maka pintu rejeki akan lebih terbuka lebar karena fikiran menjadi lebih jernih dan dapat menghasilkan ide-ide cemerlang. Sebaliknya, jika seorang wirausahawan terlena menggunakan cara berbisnis yang kotor maka fikiran akan menjadi keruh dan ide cemerlang yang positif tidak pernah muncul. Bisa jadi kekayaannya akan berlimpah, akan tetapi ia tak ubahnya hidup berlumuran kotoran.

Seperti halnya mengemudi mobil, pilihan kecepatan, gaya mengemudi, kepatuhan terhadap rambu-rambu yang ada, sepenuhnya berada di tangan sang pengemudi. Namun, terlepas dari semua aturan yang ada, kita harus yakin bahwa mata Tuhan tidak pernah berhenti melihat apa yang kita lakukan. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah berwirausaha memiliki peluang lebih besar untuk tercapainya tujuan kaya (materi) dibanding pilihan profesi lainnya. Pemahaman macam itu yang membuat saya tetap gemar menularkan virus kewirausahaan meskipun saya sendiri masih belum berhasil jadi orang kaya raya. (*)

*Pengusaha properti dan penulis novel