Ketua RT Dolly: PSK Ikut Pelatihan Malah Dianiaya

 

Ketua RT Dolly: PSK Ikut Pelatihan Malah Dianiaya

Upaya penolakan dan intimidasi terhadap penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak, ternyata bukan isapan jempol belaka. Salah satu, ketua RT di kawasan lokalisasi Dolly, Didik (nama samaran), mengungkapkan kasus penganiayaan terhadap seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Ada dua orang PSK yang ikut pelatihan. Besoknya yang satu badannya lebam-lebam. Pas saya tanya nggak mau mengaku siapa yang mukulin,” ujarnya kepada wartawan saat penyerahan bantuan stimulus di kediaman wali kota, Senin (9/6/2014).

Didik mengakui bila tak ada warga yang memergoki kejadian penganiayaan terhadap PSK itu. Tetapi bukti fisik membuat pihaknya yakin, ada oknum yang siap mengintimidasi siapapun yang mendukung penutupan Dolly. Termasuk PSK.

“Mbak-nya itu sempat bilang apa yang dikatakan oleh orang yang menganiaya dia. ‘Awak dhewe iki bengak-bengok memperjuangno nasibe kene ben gak ditutup, kok awakmu melok pelatihan’ (kita ini berteriak memperjuangkan nasib kita supaya tidak ditutup kok kamu malah ikut pelatihan, Red),” kisahnya.

Ketua RT yang berada persis di belakang gang Dolly itu menegaskan, pihak yang bersikeras menolak penutupan ialah bukan warga asli setempat. “70 persen orang-orang yang kerja di situ bukan dari Surabaya. PSK-nya orang luar kota semua,” ujarnya.

Sebaliknya, suara penolakan datang dari pihak-pihak di luar prostitusi yang lebih berkepentingan, salah satunya LSM. “Kalau mereka alasannya adalah ekonomi, mucikari-mucikari itu sebenarnya tidak peduli dengan nasib para PSK. Uang mereka banyak mengalir ke mucikari, tapi kalau mbak-mbaknya sakit (tertular HIV, Red) tahu-tahu sudah dipulangkan. Tidak diurusi, setelah itu kedengaran sudah mati,” kata Didik.

Lain lagi cerita salah seorang warga terdampak, Ninik (nama samaran). Ibu dua anak itu menjadi buruh cuci di wisma Dolly selama 15 tahun. Saat Dolly-Jarak masih ramai, ia bisa meraup sekitar Rp 2.000.000 per bulan. “Sebulan dapat Rp 125.000 per bulan, per orang. Hitungannya pas masih ramai, satu wisma bisa sampai 17 orang. Sekarang sudah sepi, satu wisma paling cuma 5 orang. Itu pun kalau mbaknya nggak lupa,” keluhnya.

Kini, sudah sebulan Ninik berusaha mengubah nasibnya dengan banting setir menjadi pedagang sayur. Ia juga termasuk warga terdampak yang memperoleh bantuan rombong dan sepeda kayuh untuk berjualan oleh pemkot Surabaya bekerja sama dengan YDSF dan Muhammadiyah. Meski penghasilannya tak sebaik ketika menjadi buruh cuci PSK, ia menyatakan setuju atas rencana penutupan Dolly-Jarak pada 18 Juni mendatang, “Ya kita kan, harus coba pekerjaan lainnya. Kalaupun nggak setuju, kita ini cuma orang kecil. Alasannya gitu, ya apa boleh buat. Saya manut saja,” tuturnya jujur.(wh)