Ketahanan Air di Indonesia Sangat Rendah

Ketahanan Air di Indonesia Sangat Rendah

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki tingkat kebencanaan yang paling rawan. Persentase kejadian bencana yang terkait dengan iklim atau disebut bencana hidrometeorologis mencapai lebih dari 90 persen.

Terkait masalah itu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS mengadakan acara Seminar Hasil Penelitian Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI) ITS, Kamis (6/8/2015).

Dalam seminar ini LPPM menghadirkan tiga keynote speaker, yaitu Direktur Jenderal (Dirjen) Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Dr Ir Jumain Appe MSi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dr Ir Arie Setiadi Moerwanto MSc, serta Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB Lilik Kurniawan ST MSi. Mereka menjelaskan mengenai kebijakan penelitian bidang bencana, kebijakan nasional penanggulangan bencana dan kebijakan bidang bencana Kementerian PUPR. Dalam menghadapi bencana, Jumain Appe menjelaskan perlu adanya suatu sistem logistik yang terkoneksi untuk urusan kebencanaan.

“Karena ketika bencana itu terjadi yang selalu dikhawatirkan masyarakat berupa kebutuhan logistik seperti makanan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, dalam diskusi ini Jumain berharap hasil riset yang dilakukan berbagai perguruan tinggi mengenai mitigasi segera bisa digunakan oleh masyarakat luas dan dikomersilkan. Sementara itu, Arie Setiadi menjelaskan mengenai ketahanan air di wilayah Indonesia. Dikarenakan kenaikan suhu bumi mengakibatkan wilayah indoensia mengalami tingkat intensitas hujan yang cukup tinggi. Hal itu menjadikan sumber daya air Indonesia mempunyai potensi air dengan peringkat lima besar di dunia.

“Tapi mengapa di daerah Indonesia masih selalu ada kekurangan air?” tanyanya.

Hal ini dikarenakan, ketahanan air di Indonesia paling rendah. Ketahanan rendah ini disebabkan karena Indonesia tidak bisa mendistribusikan penduduknya, semuanya terkonsentrasi di pulau Jawa. Padahal, jumlah air di pulau Jawa hanya sebesar 1.200 meter kubik per tahun, dan idealnya untuk suatu wilayah jumlah airnya sebesar 1.600 meter kubik per tahun.

Menurut Arie, justru potensi air terbanyak berada di daerah Papua. Di sisi lain, Jumain menyampaikan bahwa ITS telah menduduki peringkat teratas sebagai perguruan tinggi peneliti Mitigasi dan Manajemen Bencana pada tahun 2013-2014.

“Sebanyak 42 paper manajemen bencana dan 32 paper perubahan iklim,” ungkapnya.

ITS pun ditargetkan oleh Kemenristekdikti pada tahun 2019 untuk masuk dalam perguruan tinggi 500 besar dunia. Hal ini juga perlu didukung dengan banyak riset, dan paper internasional. Dengan demikian penelitian masalah kebencanaan bisa sangat berkembang luas. Dalam seminar kali in,i ITS juga membagikan hasil penelitian PSKBPI ITS selama lima tahun terakhir. Penelitian tersebut telah terkumpul sebanyak 96 paper, 74 paper di antaranya dalam format word yang bisa diedit.

Dari 74 paper hasil penelitian tersebut dibagi menjadi dua buku yakni, tentang Manajemen Bencana, Mitigasi dan  Adaptasi Perubahan Iklim. Buku-buku ini juga akan diberikan kepada para pemangku kepentingan di kabupaten/kota seperti BPBD, ESDM, PUPR, BLH, dan Perguruan Tinggi serta LSM. Harapannya bisa menjadi acuan dan pedoman dalam pengurangan risiko bencana di Indonesia. (wh)