Kerudung Izza Selalu Ikuti Tren Film dan Sinetron

Kerudung Izza Selalu Ikuti Tren Film dan Sinetron
Mussyarofah dan Syaiful Fuad

Mempunyai usaha warung kopi (warkop) di kampungnya tidak lantas berpuas diri. Kakak beradik, yaitu Mussyarofah dan Syaiful Fuad, berkeinginan untuk mentas menuju kehidupan yang layak.

Warga Manyar, Gresik ini akhirnya beralih dari membuka warkop kopi ke bisnis pembuatan kerudung. “Kakak dan saya akhirnya sepakat untuk meningkatkan taraf hidup sekeluarga yang akhirnya mendirikan produksi kerudung. Kalau buka warkop disini (di desanya, red) pendapatan masih sedikit,” kata Syaiful kepada enciety.co saat ditemui di rumahnya yang juga dijadikan tempat produksi.

Jilbab 2

Pembagian tugas pun dilakukan oleh kakak beradik ini. Untuk Mussyarofah sendiri kebagian membuat sketsa kerudung dan membikin jadi produk sedangkan Syaiful bertugas mempromosikan ke pasar-pasar. Kedua orang ini akhirnya sepakat memberi nama produk mereka dengan Izza Collection.

Melihat hasil produk kerudung mereka, salah satu toko di Pasar Pabean Surabaya pun tertarik untuk meminta mereka mengisi stok kerudung di tempat ini. Waktu terus berjalan, pesanan kerudung akhirnya bertambah banyak.

Mereka pun terus berupaya menciptakan berbagai motif dan bentuk kerudung berdasarkan tren yang ada. “Jujur saja, pembuatan kerudung kami berdasarkan tren dari sinetron dan film bioskop. Kami lihat menarik, maka langsung membuatnya. Dan masyarakat malah suka yang tidak monoton,” lanjutnya.

Seperti kerudung model Syari Rabani dan model Bilqis. Dengan kain monochrome, kedua model kerudung Gresik ini yang menjadi primadona karena paling banyak dipesan.

Demi memenuhi permintaan pelanggan akhirnya mereka pun merangkul tetangganya. “Saya kumpulkan 30 tetangga yang harus menambah jumlah tenaga kerja karena kalau tidak kami kewalahan. Dengan pegawai seperti ini pun kami masih bekerja sampai larut malam,” ujarnya.

Disebutkan, pesanan kerudung Gresik tidak hanya datang dari pelanggannya di Pulau Jawa saja. Tetapi pesanan mereka juga menumpuk dari berbagai wilayah Indonesia seperti Jakarta, Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan. “Kami juga mempunyai pelanggan tetap dari Makassar,” terusnya.

Dengan harga jual variatif mulai dari harga Rp 300 ribu per kodi hingga Rp 500 ribu per kodinya, mereka mampu membeli dua mobil untuk operasional dan beberapa mesin jahit.

“Alhamdulillah usaha kami semakin maju berkat sinetron yang banyak ditampilkan di televisi,” tandasnya. (wh)