Kereta Cepat Jakarta-Surabaya usai Double Track Tuntas

Kereta Cepat Jakarta-Surabaya usai Double Track TuntasPemerintah mengalokasikan anggaran Rp 100 triliun untuk merealisasikan pembangunan rel kereta cepat Jakarta-Surabaya tahun ini. Pembangunan ini akan dilaksanakan setelah jalur rel ganda (double track) tuntas.

“Dalam lima tahun kedepan kita akan memiliki kereta api cepat. Proses pembangunannya memakan waktu antara 4-5 tahun,” kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Menurut Bambang, pemerintah belum menyebutkan nominal itu bersumber dari APBN murni atau mendapat pinjaman. Kabar terakhir Jepang bersedia membantu proyek pembangunan high speed train (kereta cepat) ini.

“Kita belum tahu, dalam studi kelayakan itu apakah melibatkan investor dalam negeri atau asing, demikian juga share alokasi anggaran pemerintah dan swasta. Nantinya akan ketemu alokasinya, berapa kebutuhan anggaran,” lanjutnya.

Meski sudah memiliki kereta api super cepat, proses operasional tidak sekaligus Jakarta-Surabaya. Kementerian Perhubungan menyebut ada tahapan-tahapan yang dilalui. Tidak tertutup kemungkinan Jakarta-Bandung atau Jakarta Semarang.

Kementerian Perhubungan menunjuk sejumlah kereta cepat di penjuru  dunia juga melakukan pola yang sama. Rute perjalanan transportasi tidak sekaligus dijalankan. Kedepan kita akan menghubungkan dua kota yang secara ekonomi dan bisnis sangat potensial,” tutupnya.

Bambang juga belum bisa memastikan start awal pelaksanaan pembangunan kereta cepat ini. Kepada sejumlah wartawan, Bambang menyebut bila saat ini masih pre feasibility study (studi kelayakan) pembangunan lintasan dan masalah lahan.

“Saat ini baru menentukan benefit and cost (keuntungan dan biaya). Misalnya begini, bila jalur kita belokkan ke Bandung, seberapa besar biayanya,”  papar Bambang. Pun dengan masalah lahan yang akan dilalui sepanjang rel jalur kereta cepat ini.

Kereta cepat ini dijadwalkan menempuh rute Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya dengan masa tempuh sekitar 3 jam. Tetapi rute tersebut tidak tertutup kemungkinan berbelok dahulu ke Bandung setelah dari Jakarta, kemudian masuk ke Cirebon dan menuju Semarang, finish di Surabaya.

Dalam pra studi kelayakan itu, Bambang menyebut ada dua trase yang akan diambil. Pertama adalah dari Jakarta melalui Cirebon lalu Semarang kemudian Surabaya. Yang kedua, Jakarta lewat Cikarang lalu Bandung diteruskan ke Cirebon, Semarang, dan Surabaya.

“Tentunya juga membahas lahan, karena ini penting dan sangat krusial. Apakah nanti mengambil jalur eksisting atau tidak,” jelas Bambang.(wh)