Kera Jepang KBS Bertambah

Kera Jepang KBS Bertambah

 

Koleksi satwa Kebun Binatang Surabaya (KBS) bertambah. Seekor induk kera Jepang (macaca fuscata) bulan lalu melahirkan seekor bayi jantan, tepatnya tanggal 9 Maret 2014. Dengan demikian, jumlah kera Jepang di KBS saat ini menjadi 10 ekor.

Humas KBS Agus Supangkat saat dikonfirmasi di kantornya, Jumat (14/3/2014), mengatakan kelahiran kera langka asal Jepang itu menjadi angin segar bagi masyarakat pecinta kera Surabaya dan Jatim pada umumnya. “Sekarang sudah agak besar anaknya. Bisa dilihat di kandangnya, dekat kandang jerapah,” ujarnya.

Kera Jepang biasa hidup di habitat pegunungan bersuhu dingin. Di Negara asalnya, Jepang, mereka selalu hidup berkelompok. Suhu musim dingin di daerah Pegunungan Pulau Honshu bisa hingga di bawah -15 °C. Kebiasaan kera Jepang berendam di pemandian air panas untuk menghangatkan tubuhnya. Habitatnya di Pulau Honshu, Shikoku, dan Kyushu.

Meskipun begitu, kera Jepang mampu beradaptasi dengan suhu tropis Kota Pahlawan yang relatif panas.

Kera Jepang adalah hewan siang (diurnal) yang hidup di dalam hutan. Habitatnya adalah hutan subtropis, hutan subelfin, hutan musim, dan hutan yang hijau berada di bawah ketinggian 1.500 m.

Kera Jepang tersebar mulai dari Tanjung Shimonokita yang terletak di bagian paling utara Pulau Honshu hingga Pulau Yakushima di selatan Kyushu Jepang. Monyet Jepang hidup berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 20 hingga 100 ekor yang dibagi menjadi beberapa subkelompok berdasarkan kekerabatan sejumlah betina (matrilineal) bersama beberapa pejantan.

Secara rata-rata, perbandingan betina dan jantan adalah 3:1. Di antara kera betina terdapat hirarki yang ketat. Anak berkelamin betina mewariskan peran dan kedudukan ibu dalam kelompok.

Sebaliknya, pejantan cenderung hidup berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Sepanjang musim kawin, betina melakukan kopulasi dengan rata-rata 10 pejantan.

Kendati demikian, hanya sepertiga dari 10 pejantan yang berhasil ejakulasi. Betina hanya bunting selama musim kawin, walaupun hubungan antara jantan-betina terus berlangsung sepanjang tahun. Masa bunting (hamil)-nya berlangsung selama 173 hari. Bayi yang dilahirkan hanya satu ekor. Berat bayi ketika dilahirkan sekitar 500 gram.

Makanannya berupa daun-daunan, biji-bijian, akar-akaran, tunas pohon, buah-buahan, serangga, buah beri, hewan invertebrata, jamur, telur burung, kulit pohon, dan serealia.

Agus menambahkan, jenis kera Jepang berciri muka merah dengan bulu tebal, sudah lama dikembangbiakkan di KBS. Dengan kelahiran ini, berarti semakin menambah banyak koleksi berbagai jenis satwa di KBS, yang jumlahnya sekitar 4.000-an ekor.(wh)