Kendala Bahasa Inggris Bisa Membuat RI Gagap Hadapi MEA 2015

 

Kendala Bahasa Inggris Bisa Membuat RI Gagap Hadapi MEA 2015

Tahun depan, Indonesia segera memasuki era perdagangan bebas antar atau dikenal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan dibuka pasar tunggal ini, baik produk barang maupun jasa akan lebih mudah masuk antar negara Asia Tenggara.

Nirmala Sari, Head of Trade Global, Trade and Receivables Finance HSBC, mengatakan Indonesia sebenarnya mampu mengambil keuntungan secara maksimal dari dibukanya perdagangan bebas antar negara ASEAN ini asalkan ada persiapan yang matang dari industri di dalam negeri.

“Perlu dipikirkan bagaimana kita bisa mengambil benefit dari FTA (Free Trade Agreement). Pemerintah menandatangai FTA ini untuk menggenjot ekspor tetapi belum disosialisasikan dengan baik, terutama ke pengusaha. Padahal pengusaha butuh persiapan untuk hadapi FTA ini,” ujar dia pada diskusi di Gedung World Trade Center (WTC) Jakarta, Kamis (25/9/2014).

Dia mengatakan, jika dilihat dari sektor jasa, tenaga kerja perlu mendapatkan perhatian khusus. Pasalnya, tenaga kerja asal Indonesia masih belum terbiasa dan mampu berbahasa Inggris dengan baik. Hal ini berbeda dengan tenaga kerja asal Malaysia dan Singapura.

“Kalau kita, yang tidak siap itu pekerjanya, terutama soal bahasa Inggris. Itu kalahnya akan di-overdrive oleh Malaysia dan Singapura. Meski taruh 70 persen pekerja di Jakarta sudah siap, tetapi di wilayah lain? Di kita, tidak semua bisa berbahasa Inggris dengan bagus untuk negosiasi,” tutur dia.

Jika ini tidak segera menjadi perhatian pemerintah, lanjut Nirmala, meski banyak investasi yang akan masuk ke Indonesia, namun tenaga kerjanya juga harus impor dari negara lain.

Local demand memang selalu naik dan middle class kita banyak yang melirik. Tapi ini bukan soal kalah menang, tetap siap atau tidak. Jangan nanti akhinya mereka akan impor tenaga kerja lagi. Dan pemerintah juga tidak bisa menyetop impor ekspatriat,” tandas dia. (lp6/wh)