Kemenristek-Dikti: Peneliti Masih Terganjal Ruwetnya Keadministrasian

Kemenristek-Dikti: Peneliti Masih Terganjal Ruwetnya Keadministrasian
ilustrasi: bestprofit-pekanbaru.com

Para peneliti dan inovator di Indonesia sampai saat ini masih terhambat oleh hal-hal yang bersifat keadministrasian. Hal itu ditegaskan Sekretaris Bidang Penelitian dan Pengembangan Riset Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) Prakoso.

“Selain ada prospek dan peluang, para peneliti ini masih menghadapi hambatan yang bersifat keadministrasian, seperti pertanggungjawaban dana yang digunakan. Dan, itu rumit sekali, sehingga mengurangi waktu para peneliti,” kata Prakoso dalam sambutan pembukaan Universitas Brawijaya (UB) Riset Inovasi dan Teknologi (Ritech) di kampus UB di Malang, Jawa Timur, Rabu (21/10/2015).

Namun demikian, lanjutnya, bukan berarti penelitian di Indonesia berhenti dan stagnan, bahkan pemerintah juga terus membangun dan mengembangkan science technology park (STP) untuk mewadahi karya dan hasil penelitian anak bangsa. Pembangunan STP tersebut ditargetkan bisa mencapai 100 unit dengan berbagai jenis hasil penelitian, termasuk di bidang wira usaha.

Ia meyakini ke depan Indonesia akan mengalami kemajuan di bidang penelitian. Dan, untuk mendukung hal tersebut, pemerintah giat membangun dan mengembangkan STP di berbagai daerah. Selain itu, juga harus ada sinergitas antara perguruan tinggi, para pebisnis dan pemerintah atau ABG (Akademisi, businessman, government).

Pada kesempatan itu Prakoso mengimbau menghadapi era perdagangan bebas yang sudah berada di depan mata ini, Indonesia harus bisa bersaing dengan negara-negara lain. Oleh karena itu, inovasi harus selalu dilakukan dan berkesinambungan.

“Kita harus bisa membangun Indonesia yang berdaya saing di era globalisasi, termasuk hasil-hasil penelitian yang bisa diaplikasikan di masyarakat lebih luas,” terangnya.

Sementara itu Rektor UB Malang Prof Dr Muhammad Bisri meningatkan agar seluruh komponen masyarakat harus bekerja sama untuk pengembangan produk penelitian, termasuk kalangan ABG. “Semua pihak, akademisi, pebisnis atau perusahaan serta pemerintah harus saling bersinergi untuk kemajuan di bidang penelitian ini,” katanya.

Bisri mengemukakan produk penelitian anak bangsa memiliki daya saing tinggi, bahkan hasilnya dangat luar biasa. Oleh karena itu, harus lebih didorong dan didukung lagi untuk lebih produktif dan harus berdaya saing tinggi serta memiliki manfaat bagi masyarakat.

Pameran penelitian atau UB Ritech tersebut digelar selama dua hari pada 21-22 Oktober 2015. Pameran penelitian yang digelar di Sport Center UB tersebut menampilkan lebih dari 60 stan hasil penelitian mahasiswa dan instansi dari berbagai bidang, seperti ketahanan pangan, energi, gizi, obat-obatan, good governance serta agroforestry.

Menurut ketua pelaksana UB Ritech Akhmad Sabarudin, ajang ini bertujuan menghilirisasi penelitian yang dilakukan mahasiswa. “Ada pameran dan diskusi antara mahasiswa, peneliti, pemerintah dan perusahaan swasta, sesingga tidak sebatas buku atau laporan saja,” katanya.

Bahkan, lanjutnya, dari hasil penelitian yang dipamerkan itu ada beberapa yang sudah diproduksi secara massal. “ADa beberapa hasil penelitian yang sudah diproduksi secara massal oleh perusahaan yang bekerja sama dengan UB,” ucapnya. (ant/wh)