Kemendikbud Ingatkan Peredaran Buku Kurikulum Abal-Abal

Kemendikbud Ingatkan Peredaran Buku Kurikulum Abal-Abal

Para kepala sekolah dan guru harus waspada dengan keberadaan buku pelajaran. Pasalnya, kini marak beredar buku buku implementasi kurikulum 2013 palsu alias abal-abal.

Hal itu ditegaskan Sukemi, staf ahli Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Bagian Humas dan Komunikasi . Kata dia, kepala sekolah dan guru diimbau tidak belanja buku kurikulum 2013 lebih dulu.

“Kementerian sedang menyiapkan dan menyusun buku kurikulum resmi yang akan digunakan resmi di semua sekolah di Indonesia. Sehingga jika buku yang digunakan bukan dari pemerintah tersebut, maka dianggap bukan buku resmi,” katanya.

Dijelaskan Sukemi, bagi kepala sekolah yang mau mendahului membeli buku kurikulul 2013 sebelum buku resmi dikeluarkan, diharapkan melapor dulu ke kemendikbud. Karena sekarang sedang marak buku abal-abal yang mengaku memuat kurikulum 2013.

“Banyak oknum dari perusahaan percetakan yang langsung masuk ke sekolah untuk menawarkan buku tersebut,” ungkap mantan jurnalis tersebut.

Sukemi juga mengungkapkan, sekarang tim kementerian penyusun buku sedang menyusun buku untuk kelas V, VIII, dan XI. Targetnya sebelum bulan Juli buku tersebut sudah siap dan sudah dipasarkan di sekolah-sekolah. Buku-buku tersebut sedang disusun ini mrupakan evaluasi dari buku sebelumnya. Mulai dari isi dan juga penyesuaikan dan penyempurnaan dari edisi sebelumnya.

“Makanya, kami berharap agar kepala sekolah maupun guru bersabar,” cetus Sukemi.

Untuk mekanisme pembelian buku kurikulum 2013 di semester satu tahun ajaran 2014/2015 mendatang, buku dapat dibeli menggunakan dana BOS buku yang kini sudah cair. Sedang untuk kurikulum dua, dana pembelian buku kurikulum menggunakan dana alokasi khusus (DAK) yang disediakan pemerintah yang disalurkan langsung lewat APDB.

“Jadi, dipastikan bahwa siswa tidak dikenai biaya untuk pembelian buku. Meski dana BOS buku sudah cair, tetap kepala sekolah jangan terburu-buru beli buku dari luar,” ujar Sukemi

Selain itu, imbuh dia, kini proses penyusunan sudah masuk tahap pelelangan percetakan. Untuk percetakan ini akan dibagi sebanyak 74 region. Dimana masing-masing region ini akan bertanggung jawab atas beberapa kabupaten kota, dimana semua sekolah di kabupaten kota tersebut wajib membeli buku kurikulum 2013 di percetakan yang telah menang lelang tersebut.

Kata dia, ada 29 eksemplar yang di lelangkan. Nantinya dijual ke sekolah dengan harga eceran tertinggi (HET) senilai Rp 9 ribu. Sedangkan pemerintah sendiri menyediakan dana untuk pendanaan percetakan buku ini senilai Rp 1,7 T untuk jenjang SD, dan SMP atau pendidikan dasar ini. (wh)