Kembar Siam Ponorogo Kembali Kritis

Kembar Siam Ponorogo Kembali Kritis
KRITIS: Kembar siam asal Ponorogo Aldi Wahyu Pratama dan Aldo Wahyu Pratama (2 bulan) di RSUD Dr Soetomo Surabaya. avit hidayat/enciety.co

Sempat membaik pada pekan lalu, Selasa (19/8/2014), kondisi kembar siam asal Ponorogo Aldi Wahyu Pratama dan Aldo Wahyu Pratama (2 bulan) dikabarkan kembali kritis. Ini kemudian membuat Tim Pusat Penanganan Kembar Siam Terpadu (PPKST) RSUD Dr Soetomo Surabaya merencanakan operasi Cito (operasi darurat) pada Rabu (20/8/2014).

“Kami bersama 100 dokter tim PPKST telah sepakat pemisahan kedua bayi akan dilakukan besok pagi. Mengingat keaadaan Aldi yang semakin memburuk, kalau tidak segera dipisahkan kami khawatir bisa berdampak pada kesehatan Aldo,” ungkap Ketua PPKST RSUD Dr Soetomo, dr Agus Harianto di Gedung Pusat Bedah Terpadu (GPBT).

Menurut keterangan Agus, kalau tidak segera dilakukan operasi darurat pihaknya khawatir kedua bayi akan meninggal. “Dampaknya dapat meninggal dua-dua nya. Tapi kalau kita menyelamatkannya (Aldi dan Aldo) InsyaAllah kedua bayi bisa selamat atau salah satu bisa selamat,” jelasnya.

Langkah operasi pemisahan secara darurat ini dilakukan sebagai satu-satunya upaya menyelamatkan kedua bayi. Menurut Agus, ini karena kondisi Aldi yang mengalami kelainan jantung terus naik turun. “Kadang kesehatannya mencapai 70 persen, tapi satu jam kemudian drop menjadi 25 persen,” bebernya.

Agus juga membeberkan, selama ini Aldi masih bergantung pada alat bantu pernapasan untuk menyuplai oksigen ke dalam paru-parunya. Agar kondisi jantung bisa berdegup secara stabil. Namun diakuinya dampak dari terlalu lama memakai alat bantu pernapasan sangat buruk.

“Kalau is Aldi selalu menggunakan alat bantu pernafasan akan mengundang infeksi di paru-paru. Sampai kapan ada benda asing dimulutnya? Ini kemudian juga menjadi acuan keputusan kami. Selain itu, Aldo juga mulai ketularan infeksi dari Aldi. Tapi kami sudah antisipasi dengan memberikan antibiotika,” tuturnya.

Bagi Agus keputusannya kali ini sangat berat. Pasalnya umur kedua bayi yang terbilang rentan jika dilakukannya operasi. “Tapi apabila tidak dilakukan operasi darurat segera, maka akan berimbas pada kematian kedua bayi,” terangnya.

Sampai saat ini pihaknya mengaku bersama tim PPKST tengah menyiapkan ruang operasi. Termasuk dilakukannya sterilisasi ruangan dan penyiapan peralatan medis. “Sementara ini kami lakukan stabilisasi kondisi pada kedua bayi sebagai persiapan sebelum dilakukannya operasi,” katanya.

Terkait waktu yang dibutuhkan untuk operasi darurat, Agus sendiri tidak bisa memastikan berapa lama operasi pemisahan akan berlangsung. Karena tim dokter tengah menstabilkan kondisi kedua bayi yang naik turun.

Di satu sisi, orang tua kedua bayi, Sukoto dan Puji Astuti mengaku pasrah dengan kondisi yang dialami oleh anaknya. Puji Astuti, mengaku menyerahkan semua tindakan medis kepada rumah sakit. Meski demikian ia tetap berharap kedua putranya dapat diselamatkan.

“Saya khawatir. Takut. Saya berharap operasi berjalan lancar dan anak saya dapat selamat. Saya berharap tuhan dan dokter melakukan yang terbaik untuk anak saya,” harap Puji berkaca-kaca. (wh)