Kembangkan Usaha, Hasiba Garap Pasar Ecoprint

Kembangkan Usaha, Hasiba Garap Pasar Ecoprint

Hasiba memamerkan proses pembuatkan ecoprint. foto: arya wiraraja/enciety.co

Pengembangan produk terus dilakukan oleh pelaku usaha Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda Surabaya. Seperti dilakukan Hasiba, owner Sohiba Embroidery. Setelah sukses dengan produk jahitan dan kerudung sulam pita, kini Hasiba mengembangkan produk ecoprint.

“Alhamdulillah, usaha yang saya tekuni mulai berkembang. Setelah bergabung dengan Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda Surabaya sekitar awal 2012, produk saya kini tidak lagi itu-itu saja. Saya punya produk ecoprint,” kata dia kepada enciety.co, Selasa (25/2/2020).

Menurut dia, keahlian membat ecoprit dia dapat dari pelatihan batik ikat celup yang diadakan Pahlawan Ekonomi, awal 2013. “Ya, saya sangat bersyukur, karena dengan ikut pelatihan itu saya dapat ilmu baru yang bisa saya gunakan mengembangkan usaha,” ucap Hasiba.

Perempuan kelahiran Surabaya 8 Februari 1970 ini, menjelaskan, banyak tantangan dihadapi ketika membuat ecoprint. Di antaranya, kesulitan mencari bahan baku daun. Kata dia, tidak semua daun dapat digunakan membuat ecoprint.

Menurut Hasiba, daun yang digunakan harus dalam kondisi bagus. Seperti daun jati untuk warna merah muda, daun kalpataru untuk warna berbayang, daun lanang yang menghasilkan warna kuning, dan lain sebagainya.

“Tidak semua daun bisa digunakan. Selain itu, daun yang digunakan tidak boleh kering. Tantangan lain adalah musim hujan seperti sekaang ini, kebanyakan daun dimakan ulat. Supaya bisa terus berproduksi, kita harus benar-benar memperhatikan hal ini,” papar istri Halili (53) itu.

Hasiba mengaku memasarkan produknya di beberapa Sentra UKM milik Pemerintah Kota Surabaya. Juga di Facebook dan Instagram. Produk buatan Hasiba sudah pernah dibawa ke China, Inggris, Arab dan New Zealand.

“Alhamdulillah, lewat Facebook, saya bisa dapat pelanggan dari Arab. Saya juga punya pelanggan tetap dari New Zealand yang tiap bulan selalu datang untuk beli,” cetus dia.

Menurut dia, produk yang menjadi bestseller adalah selendang sutra ecoprint. Harganya Rp 1,2 juta per helainya. “Saat ini omzet saya rata-rata tiap bulan bisa mencapai Rp 9,5 juta. Produk yang saya tawarkan bervariasi. Mulai dari Rp 100 ribuan sampai Rp 1,2 jutaan,” tegasnya. (wh)