Kembangkan Sustainable City, ITS Gandeng Technische Universität Berlin

Kembangkan Sustainable City, ITS Gandeng Technische Universität Berlin

Bambang Soemardiono.foto:humas its

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengambil peran dalam pembangunan kota dan pengembangan peradaban. Kali ini, melalui Seminar Internasional bertajuk Conscious City: Sustainable and Equitable City -Making, ITS bekerjasama dengan Technische Universität (TU) Berlin membahas konsep Smart City (Kota Cerdas) dan sebuah gagasan baru, yakni Conscious City di Ruang Sidang Utama Rektorat ITS, Rabu (4/9).

Kedua konsep tersebut dianalisis dan dikembangkan dalam forum internasional tersebut guna menemukan rancangan terbaik untuk membangun sebuah daerah menjadi Sustainable City atau Kota Berkelanjutan. Seperti diketahui, Surabaya saat ini dikenal sebagai salah satu Kota Cerdas terbaik di Indonesia. Sehingga sudah tidak asing lagi bagi masyarakatnya untuk bersentuhan dengan teknologi.

Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng menyatakan, dalam mewujudkan Kota Cerdas, tidak hanya teknologi yang berperan, namun juga aspek pengembangan wilayah kota itu sendiri. “Dalam seminar ini, kita akan melihat Smart City dari sisi yang berbeda, di mana tujuannya adalah untuk mewujudkan better health, greater prosperity, dan efficiency,” tuturnya.

Seminar yang juga bekerjasama dengan German Academic Exchange Service (DAAD) dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ini membahas transformasi berkelanjutan dari sebuah kota dan menganalisis skema baru produksi suatu kota, digitalisasi di kota-kota, pengembangan infrastruktur cerdas dan juga aspek ekonomi dari ruang hidup yang terjangkau dan hemat energi.

Hal-hal tersebut nantinya akan membawa sebuah kota menjadi Kota Berkelanjutan, di mana pembangunan kota memperhatikan dampak terhadap lingkungan dan efisiensi energi. Sesuai dengan namanya, konsep Sustainable City diharapkan dapat mewujudkan tujuan-tujuan yang dicantumkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Sementara itu, Prof Raoul Bunschoten, Kepala Laboratorium Conscious City Technischen Universität (TU) Berlin yang kali ini bertindak sebagai keynote speaker menjelaskan, upaya mewujudkan konsep Kota Cerdas sebenarnya dilakukan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Salah satunya perihal perubahan iklim yang terus meningkat. “Salah satu penyebab perubahan iklim adalah perilaku manusia yang cenderung boros energi,” tandasnya mengingatkan.

Menurut Prof Raoul, terdapat dua aspek nyata dalam kehidupan di bumi ini. Pertama adalah bumi itu sendiri, dan yang kedua adalah apa yang kita bangun dan dirikan di atas, di dalam dan di bawahnya bumi. Dari dua hal tersebut, ia mengimplikasikan bahwa apa yang dilakukan manusia adalah untuk terus menyeimbangkan antara alam dengan perilaku manusia itu sendiri.

Konstruksi yang saling berhubungan dan dinamis yang dibangun manusia turut menjadi suatu permasalahan. “Kota Cerdas termasuk di dalamnya, karena penerapannya yang kurang tepat malah mendorong manusia menjadi boros energy,” papar pakar pembangunan berkelanjutan ini.

Mengingat besarnya pengaruh dari adanya pengembangan sebuah kota, Prof Raoul kemudian mengemukakan gagasan Conscious City, di mana setiap kota tidak harus menerapkan keseluruhan konsep Kota Cerdas dan tetap berfokus pada potensi daerah tersebut. Konsep ini menitikberatkan potensi daerah, di mana pembangunan dapat berasal dan bersumber dari potensi tersebut, mulai dari alam hingga budaya dari daerah itu sendiri.

“Tidak perlu serta merta membangun infrastruktur dan melakukan digitalisasi besar-besaran, yang paling penting adalah menyadari potensi,” ujarnya. Jika konsep tersebut diterapkan dengan benar, lanjutnya, berbagai proyek pembangunan yang tidak ramah lingkungan dapat dihindari, sehingga dapat mengurangi potensi perubahan iklim.

Dr Ing Ir Bambang Soemardiono, ketua pelaksana kegiatan, mengungkapkan konsep Kota Cerdas sendiri sebenarnya memperhatikan banyak aspek dan penerapannya perlu untuk disesuaikan dengan karakteristik sebuah daerah. Selain itu, konsep tersebut bukan bergantung sepenuhnya pada teknologi dan infrastrukturnya, tetapi justru pada manusianya.

“Karena itu peran manusia menjadi sangat penting, dan konsep conscious city ini lebih dari sekedar smart city,” ujar dosen Departemen Arsitektur ITS ini. (wh)

Berikan komentar disini