Kembangkan Rajawali Mart, RNI Bidik 500 Gerai di Jatim

Kembangkan Rajawali Mart, RNI Bidik 500 Gerai di Jatim

 

Terbukanya ladang bisnis pasar mini market mendorong Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) menambah jumlah geraid di Jatim. Saat ini, baru 15 gerai tersebar di Surabaya dan 10 gerai di Kota Malang.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro menyebutkan, pengembangan bisnis untuk penyediaan produk dengan harga kompetitif. “Selain itu produk-produk yang disediakan juga berasal dari produksi perusahaan sesama BUMN,” katanya, Minggu (16/2/2014).

Ismed menjelaskan, Rajawali Mart atau Warung Rajawali nantinya dikelola secara bersama. “Sistemnya hampir sama dengan minimarket yang dikelola swasta lainnya, yaitu dengan sistem franchaise. Masyarakat cukup menydiakan anggaran Rp 750 juta-1 miliar untuk memiliki Rajawali Mart,” jebarnya.

Ismed menambahkan, anggaran itu juga bergantung dari besar-kecilnya outlet (gerai) yang akan dibuka. Sementara pihak RNI bertindak selaku pemasok kebutuhan masyarakat. Utamanya sembilan kebutuhan bahan pokok (sembako) masyarakat dengan harga yang kompetitif.

Saat ini, RNI tengah melakukan ekspansi di sejumlah kota setelah Surabaya dan Malang. Beberapa kota yang sudha dibidik adalah Kabupaten Pasuruan, Mojokerto, Kabupaten Malang, Sidoarjo, Kediri, Blitar, dan Madiun.

“Kita sudah memiliki kajian rencana ekspansi itu. Salah satunya survey berdasarkan demand dan potensi peluang bisnis. Disini nanti kita menyediakan harga yang kompetitif, itu yang membedakan dengan minimarket yang lain,” ungkapnya.

Rajawali Mart ini menyediakan produk sebanyak 1.500-4.000 item. Jumlah itu terdiri dari 15 persen produk BUMN, seperti beras, gula, teh, kopi, tepung, daging, minyak dna kebutuhan lainnya.

Bukan pekerjaan gampang bagi RNI untuk membuka Rajawali Mart. Terutama di Surabaya, Ismed menegaskan masalah perizinan susah didapat. Dia menegaskan uang yang dikelola minimarket ini tidak dibawa lari ke luar negeri, seperti minimarket lain yang bekerjasama dengan asing.

“Masalah perizinan di Surabaya agak sulit. Dimana pihak swasta begitu gampang mendapat izin, sementara kita yang berasal dari BUMN sulit mendapatkan izin. Padahal di Jakarta sendiri kita dijanjikan 2.000 outlet,” lanjutnya. (wh)