Kembangkan Eco-Town, Sukses Hubungkan Kyushu dan Honsyu

Kembangkan Eco-Town, Sukses Hubungkan Kyushu dan Honsyu
Ogatha, Project Manager Eco-Town Kota Kitakyushu, ketika menerima 30 Wartawan Surabaya di Balai Lingkungan Kota Kitakyushu, Jepang. arya wiraraja/enciety.co

Pagi itu, Kamis (1/10/2015), rombongan Jurnalis Surabaya bergegas merapikan diri untuk segera menuju bus yang telah menunggu di parkiran Station Hotel Kokura, Kota Kitakyoshu. Dengan mata yang sedikit mengantuk, tepat pukul 7.00 waktu setempat, kami yang berjumlah 30 orang langsung menuju pusat program Eco-Town Project, Kota Kitakyushu.

Untuk menuju ke tengah kota, kami harus melewati jalan bebas hambatan. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan, kami pun tiba di Balai Lingkungan, Pusat Program Eco-Town Kota Kitakyushu.

Sesampainya disana, kami disambut ramah para staf dan pegawai Pemerintahan Kota Kitakyushu. Pada saat itu, saya menemukan hal yang menarik dari penduduk Jepang, khususnya Kota Kitakyushu. Mereka yang notabene terpelajar dan sangat berkembang dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata mereka sangat menghargai kebudayaan.

Ketika saya menjulurkan tangan untuk berjabat tangan, mereka terlihat terenyuh dan menyambut tangan saya dengan antusias serta khidmat. Seluruh staf dan pegawai Pemerintahan Kota berbaris untuk menyalami kami.

Ketika memasuki ruang seminar, kami disuguhi beberapa minuman teh hijau herbal buatan lokal. Teh itu adalah teh produk usaha kecil menengah (UKM) Kota Kitakyushu yang saat ini telah berkembang menjadi usaha yang sukses. Mulai dari kemasan dan tampilan yang disajikan, terlihat jika teh hijau tersebut dibuat menggunakan mesin otomatis.

Setelah meminum minuman khas Negeri Sakura itu, kami mengikuti pemaparan yang dilakukan Pemerintah Kota Kitakyushu. Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kota Kitakyushu menjelaskan jika program eco-town yang mereka lakukan saat ini telah berhasil.

eco-town-jepang-1Ogatha, Project Manager Eco-Town Kota Kitakyushu, mengatakan jika latar belakang kotanya  menggalakkan konsep eco-town karena beberapa faktor yang dianggap krusial. Di antaranya sumber daya alam yang menipis, isu global warming yang semakin menjadi mimpi buruk bagi Kota Kitakyushu.

“Yang terakhir adalah pengolahan sampah yang belum terintegritas,” cetusnya.

Ogatha lantas mengatakan, jika program eco-town digalakkan mulai tahun 1990. Konsep dasar dari eco-town ada tiga. Yaitu, Recycle atau mendaur ulang sampah, Reduce, dalam arti kita harus dapat mengurangi jumlah sampah yang ada tiap tahunnya. Dan Reuse, dalam arti sampah yang telah diproses tadi dapat dimanfaatkan kembali. Secara tidak langsung eco-town adalah program yang digalakkan untuk memperjelas proses alur.

Ogatha juga menuturkan, ketika program tersebut telah berhasil, banyak warga masyarakat ikut memilah-milah sampah dan mendaur ulang sampah kembali secara swadaya.

“Ada tiga pilar penting dalam menciptakan program eco-town. Yaitu, edukasi, teknologi, dan komersialisasi. Ketiga pilar tersebut saling berkaitan dan saling bersinergis satu sama lain,” urainya.

Diungkapkan Ogatha, ada 26 daerah di Jepang yang telah menerapkan program eco-town. Selain itu, saat ini ada 25 sektor bidang industri yang telah melakulan langkah ini.

“Dalam konsep ini, kami sengaja menerapkan spesialisasi pengolahan sampah di tiap-tiap daerah. Contohnya di Tokyo, karena memiliki bangunan konstruksi yang tinggi, maka efeknya banyak sampah sisa bangunan yang ada di daerah tersebut,” ulas dia.eco-town-jepang-2

Ogatha menambahkan, di Kota Kitakyushu ada 6 daerah dan saat ini ada 10 laboratorium khusus yang digunakan untuk tempat penelitian yang diperuntukkan khusus mengolah sampah.

“Ada daerah di Kitakyushu yang diperuntukkan khusus untuk recycle center, tepatnya di tengah kota,” terangnya.

Untuk hasil bahan yang dapat di recycle, dia menuturkan, jika pengelolaan fasilitas tereebut telah dipercayakan pada pihak swasta. Tugas negara hanya mendorong bagaimana program tersebut dapat berjalan dan ketika sudah berhasil, maka masil dari proses tersebut bukan milik negara lagi.

Selain itu, menurut dia, sampah hasil program eco-town juga dapat digunakan sebagai bahan material reklamasi. Tepatnya di daerah yang menghubungkan daerah Kyushu dan Honsyu. Kedua daerah tersebut dipisahkan oleh laut, namun dengan sampah hasil program eco-town, kedua daerah tersebut saat ini telah disatukan dengan semacam jalan tol.

“Jalan bebas hambatan tersebut dibangun diatas material sampah dari pabrik, sampah rumah tangga yang telah dibakar dan pasir laut hasil pengerukan dari selat Kyushu dan Honsyu,” terangnya.

Selain itu, ia menjelaskan, jika area 2,5 km×10 km dan memiliki total luas sekitar 2.000 hektar tersebut, kini dijadikan sebagai pusat atau area percontohan eco-town di Jepang.

“Pada tahun 2014, ada 70 miliar yen penghasilan dari proyek eco-town. Dan saat ini, program eco-town dapat menyerap tenaga kerja sebesar 1.750 orang,” tandasnya.

Ada hal yang membuat kami takjub ketika meninggalkan tempat itu. Para staf dan pegawai tadi tidak berhenti melambaikan tangan mereka hingga bus kami melawati pintu keluar Balai Lingkungan Hidup Kitakyushu. Ternyata, hal itu merupakan salah satu budaya masyarakat Jepang ketika mereka menerima tamu. Bagi mereka, tamu adalah rejzeki dari Sang Pencipta. (wh)