Kemarau, Waspadai Kebakaran Lahan Kosong

Kemarau, Waspadai Kebakaran Lahan Kosong
foto: arya wiraraja/enciety.co

Kebakaran yang terjadi di Kota Surabaya ternyata banyak didominasi di lahan-lahan kosong. Hampir separo lebih dari total 361 jumlah kejadian kebakaran yang sudah terjadi sejak 1 Januari hingga 10 September ini, api banyak melahap lahan kosong yang ditumbuhi ilalang.

Data Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Pemerintah Kota  Surabaya sepanjang tahun 2015, tapatnya mulai Januari hingga September 2015, Damkar Surabaya mencatat ada 362 kasus kebakaran. Angka tersebut terbilang fantastis, jika melihat pada data tahun 2014, tercatat sejak Januari hingga Desember ada 596 kebakaran.

Pada September yang baru berumur 10 hari, terhitung sudah ada 44 kejadian kebakaran yang terjadi di lingkungan Surabaya. Sedangkan pada Kamis (10/9/2015), sudah ada 5 kebakaran yang disebabkan oleh terbakarnya alang-alang.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengatakan banyaknya kebakaran tersebut akibat tidak pedulinya masyarakat terhadap lahan kosong yang ada.

“Sedangkan musim kemarau di Kota Surabaya berdasarkan perkiraan BMKG masih berlangsung hingga bulan Oktober. Diharapkan semua lapisan masyarakat mewaspadai bahaya kebakaran,” tegas Kresnayana dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (11/9/2015).

Apalagi, sambung dia, berdasarkan prakiraan BMKG, El Nino puncaknya terjadi pada tanggal 10-20 Oktober mendatang. Dan El Nino ini ada di sekeliling provinsi Jatim. Suhu di siang hari bisa mencapai di atas 35 derajat celcius.

“Sebuah bencana itu datangnya kapan setiap orang tidak tahu jadwalnya. Masyarakat hanya tahu gejalanya. Diharapkan adanya deteksi dini secara cepat, tepat, dan cerdas,” lanjut dosen statistika ITS Surabaya itu.

Menurut dia, setiap manusia harus terus belajar. Kerusakan lingkungan pasti akan berdampak serius. Mulai risiko keselamatan, kesehatan dan kerusakan lingkungan akan besar yang sangat merugikan setiap manusia.

“Dan hal ini bisa diminimalkan oleh manusia itu sendiri bersama-sama dengan perangkat yang lain,” jelas dia.

Kepala Damkar Surabaya Chandra Ratna Maria DE Rosario Oratmangun membenarkan bila potensi kebakaran banyak terjadi di musim kemarau seperti ini. Awal September, pihaknya saja (Damkar Surabaya red) harus

memadamkan api hingga tiga kali di lahan ilalang yang berada di kawasan SCTV.

“Kejadian kebakaran ini sama dengan tahun lalu yang terjadi di bulan September dan Oktober. Yaitu, ilalang di lahan kosong mendominasi dibanding kebakaran pabrik atau rumah,” kata Candra.

Kebakaran yang terjadi di lahan kosong dampak pertamanya adalah asap. Masyarakat tidak menyadari bila ilalang bisa membakar rumah yang berada di sebelahnya lahan kosong karena angin kencang.

“Bila lahan tersebut sengketa harusnya masyarakat mau membersihkan seperti di Jalan HR Muhammad. Jangan sampai pihak pengurus tidak mau mengurusi. Kebakaran ilalang dikeluhkan oleh pengguna jalan yang merasa  terganggu,” tuturnya.

Pihak Damkar Surabaya sendiri bila menghadapi kebakaran ilalang berkejaran dengan angin kencang. Air sangat sulit didapat karena dilahan kosong tersebut hanya ada ilalang, banyak ular, dan beling serta sampah.

“Ini yang menyulitkan kami untuk memadamkan api,” ujarnya.

Dirinya juga memberikan imbauan agar kepedulian kepada pemilik lahan lebih tinggi. Juga, setiap orang diminta jangan buang puntung rokok secara sembarangan. Pastikan mematikan rokok dan jangan membakar sampah tanpa diawasi.

Kepala Pembinaan PMK Kota Surabaya Bambang Fistadi mengakui bila banyak ditemukan terbakarnya lahan kosong karena kecerobohan manusia buang puntung rokok secara sembarangan. Misalnya di daerah SCTV, banyak kebakaran karena banyak lahan kosong.

“Peran serta masyarakat cukup bagus membantu menyediakan sumur dan tandon serta hidran yang dipergunakan untuk menyiram,” jelas Bambang. (wh)