Bulog: Kemarau, Produksi Beras Jatim Turun

Kemarau, Produksi Beras Jatim Turun
foto;antara

Pengadaan beras oleh Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jatim kian seret. Hal ini seiring dengan dengan datangnya musim kemarau yang menyebabkan produksi padi di wilayah Jatim mengalami penurunan. 

“Memang saat ini pengadaan cukup sulit, tetapi ini memang siklus panen. Pada bulan September sampai Desember akan mengalami penurunan karena musim kemarau karena petani menghindari tanam padi di saat kemarau. Pola tanam harus disesuaikan dengan ketersediaan air. Hanya di beberapa daerah yang memiliki irigasi yang cukup saja yang melakukan penanaman padi,” ujar Kepala Bulog Divre Jatim Rusdianto di Surabaya, Minggu (28/9/2014).

Sementara itu, data Dinas Pertanian Jatim juga menyebutkan bahwa September hingga Oktober masih ada panen sekitar 15 persen. Beberapa daerah yang masih melakukan panen di antara adalah Banyuwangi, Ngawi, Pasuruan dan beberapa daerah lain. Setidaknya, tidak kurang dari 300.000 hektar yang panen pada bulan September hingga Oktober. 

Selain akibat kemarau, seretnya pengadaan beras kali ini juga dipengaruhi oleh tingginya harga beras medium di pasar. Harga Pokok Pembelian (HPP) Gabah oleh Bulog sesuai inpres mencapai Rp 4.300 per kilogram, sementara harga di pasaran sudah dikisaran Rp 4.500 per kg hingga Rp 4.800 per kg. Untuk HPP beras sesuai inpres mencapai Rp 6.600 per kg, sementara harga beras di pasaran sudah mencapai Rp 6.700 per kg hingga Rp 6.900 per kg. 

Kondisi ini ditengarai oleh ketertarikan penggilingan untuk mengolah beras menjadi beras premium sebab harga lebih menarik dibanding beras medium. Terlebih kebutuhan terhadap beras premium saat ini semakin meningkat. 

“Itu yang menjadi kendala kita. Walaupun selisih harga tersebut masih dalam taraf normal, tetapi petani akan tetap memilih menjual dengan harga yang lebih tinggi. Pengadaan tidak hanya bergantung pada produksi saja, juga pada situasi harga,” tegas Rusdianto.

Walaupun pengadaan terbilang seret, namun sejauh ini pengadaan beras oleh Bulog Jatim relatif masih berjalan. Dalam setiap harinya, pengadaan beras di seluruh wilayah Jatim masih mencapai 1.500 ton beras.

“Berbagai langkah telah kami lakukan, salah satunya dengan kian agresif melakukan pengadaan dari penggilingan padi kecil dan menggerakkan satuan tugas untuk memotong mata rantai distribusi beras dan gabah. Kalau di penggilingan padi kecil harga masih terjangkau dan mereka juga lebih senang menjual kepada Bulog karena sistem pembayarannya dilakukan dengan tunai,” jelasnya.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, pengadaan di Perum Bulog Divre Jatim sampai Kamis kemarin sudah mencapai 725.000 ton setara beras atau sekitar 70 persen dari target selama setahun yang mencapai 1,1 juta ton setara beras. “Mudah-mudahan bisa capai targat atau mendekati,” pungkasnya. (wh)