Kemarau, Kebakaran di Surabaya Naik 300 Persen

 

Kemarau, Kebakaran di Surabaya Naik 300 Persen
(dari kiri) Bambang Fistadi, Chandra Oratmangun, Tiar Junaidi dalam Perspective Dialogue, Jumat (5/9/2014). Saat memaparkan potensi wilayah kebakaran di Surabaya.

Musim kemarau berdampak pada meningkatnya jumlah kebakaran di Surabaya. Catatan Dinas Kebakaran (PMK), pada Agustus tahun ini, telah terjadi 101 kali kebakaran di Surabaya. Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding pada Juli lalu, yakni 35 kali kejadian kebakaran.

“Pada bulan-bulan sebelumnya, Mei hanya 20 kali kebakaran. Lalu Juni juga hanya 24 kali kejadian kebakaran. Tapi Agustus melonjak 300 persen dengan 101 kali kejadian,” beber Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Surabaya Chandra Oratmangun Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (5/9/2014).

Dikatakan Chandra, meningkatnya jumlah kebakaran terjadi di kawasan Surabaya Barat dan Utara. Di Surabaya barat ini kebanyakan kebakaran terjadi pada kawasan Benowo dan Semampir.

Menurut Chandra pemicu kebakaran di kawasan Surabaya Barat didominasi ilalang. Terlebih sering kali warga yang kurang peduli bahaya kebakaran sering membakar sampah atau membuang putung rokok di areal ilalang.

“Padahal di musim kemarau, ilalang sangat mudah sekali terbakar. Untuk itu kami sering melakukan sosialisasi bahaya kebakaran melalui kecamatan di kawasan Surabaya,” katanya.

Chandra lalu mengungkapkan, memasuki awal Sepetember, PMK Surabaya sudah menangani 7 kasus kebakaran di Surabaya. “Artinya musim kemarau angka kebakaran semakin meningkat,” urainya.

Meski demikian, dilihat dari catatan tahun PMK Surabaya, angka kejadian kebakaran cenderung menurun. Pada 2012 kejadian kebakaran mencapai 539, turun menjadi 397 kejadian kebakran pada 2013.

“Sepanjang pertengahan tahun ini saja telah terjadi 278 kajadian kebakaran. Kami terus berupaya untuk menekan jumlah kebakaran dengan rutin melakukan sosialisasi kepada warga,” tambahnya.

Sementara itu, Chairperson Enciety Business and Consult Kresnayana Yahya menyarankan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberikan imbauan batas tinggi ilalang. “Ini penting untuk mencegah terjadinya kebakaran,” ujarnya.

Dia juga menambahkan kalau ilalang sudah mencapai 30 centimeter, harusnya ada yang memperingatkan. “Harus dibuat peraturan atau perda. Kalau ada ilalang setinggi di atas satu meter harus didenda. Untuk merealisasikannya, PMK Surabaya harus berkontribusi dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya,” katanya. (wh)