Perlu Percepatan Kemampuan Bahasa Asing Hadapi AFTA

Perlu Percepatan Kemampuan Bahasa Asing Hadapi AFTA

 

Bahasa adalah kunci keberhasilan komunikasi. Jelang ASEAN Free Trade Area (AFTA) alias perdagangan bebas yang sudah di depan mata, bahasa menjadi sangat penting. Kesiapan masyarakat Indonesia harus dipercepat mengingat per 31 Desember 2015 mendatang, ASEAN Economic Community (AEC) alias Masyarakat Ekonomi bakal dimulai.

“Kita kok kayaknya masih santai-santai. Padahal, kalau sudah masuk pasar bebas, tenaga-tenaga kerja asing pun dengan bebas keluar masuk dan mencari kerja di sini,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya.

Kata Kresnayana, kemampuan bahasa asing kini menjadi basic skill dalam menghadapi persaingan global. Sehebat apapun ilmu seseorang apabila tak bisa ngomong bahasa Inggris akan sulit bersaing. Artinya, semua level pekerjaan, mulai teknisi bawahan hingga direktur, menuntut kemampuan bahasa asing.

“Perusahaan-perusahaan asing banyak berinvestasi di Indonesia. Bagaimana bisa berkordinasi kalau teknisinya nggak bisa bahasa Inggris? Ini bisa berakibat fatal,” cetusnya. Penyebabnya pun terkadang sepele. Contohnya saja adalah salah spelling (pengucapan), yang berujung pada salah persepsi

Ini menunjuk kesiapan pekerja Indonesia dalam menghadapi AFTA masih kurang. Kesiapan tersebut sebenarnya bisa dinilai dari hasil tes bahasa asing yang biasa diminta perusahaan sebelum menerima karyawan. Namun, tak semua menyadari pentingnya tes bahasa berstandar internasional.

“Masih ada yang menganggap serangkaian tes bahasa berstandar internasional itu sebagai sesuatu yang merepotkan,” timpal Chief Operating Officer International Test Center (ITC) Jenny Lee.

Ia mengungkapkan, masyarakat masih banyak yang meremehkan. Tes bahasa dipandang sekadar mengikuti tes saja, yang penting ada skornya. Padahal, kemampuan bahasa asing seseorang baru benar-benar teruji ketika mengikuti tes yang sertifikasinya otentik dan diakui internasional.

Jenny mengingatkan kembali mengenai persaingan internasional. Ia lalu menyebutkan, Indonesia masih cukup tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

“Kemampuan bahasa Inggris warga Indonesia berada di posisi ke-5, di bawah Singapura, Filipina, Malaysia, Thailand. Sisanya yang di bawah Indonesia adalah Vietnam, Myanmar, dan lain-lain,” ujarnya.

Jenny mengungkapkan, tak sedikit orang Indonesia yg masih merasa santai dengan waktu pencanangan AEC 2015. Padahal, kian hari jumlah pekerja asing di Indonesia kian banyak. Supir-supir taksi India, tenaga ahli alias teknisi diperkirakan akan kebanjiran tenaga kerja asal luar negeri.

“Di Bandara Soekarno-Hatta, lebih dari 50 persen penumpang yang menunggu keberangkatan adalah ekspatriat-ekspatruat asing. Dan itu bukan bule-bule Kaukasian, tapi dari India, Amerika Latin, dll. Rasanya ngeri, jika kita masih merasa aman dengan keadaan kita sekarang,” imbuhnya.

Untuk urusan persiapan, barangkali Indonesia perlu belajar banyak dari China. Kresna mengisahkan pengalamannya berkunjung ke sana pada tahun 2008.

“Pelajar-pelajar di China didorong untuk mengasah kemampuan komunikasi melalui ujian praktik. Mereka diterjunkan menjadi tour guide di bus-bus wisata dan memandu para turis dengan bahasa Inggris. Setelah itu, penilaian para turis terhadap arahan si pelajar dijadikan salah satu syarat kelulusan,” paparnya.

Thailand juga tak kalah bersiap. Sejak tiga tahun lalu, pelajar setingkat kelas 4 SD sudah diajarkan bahasa Inggris dengan topik yang spesifik; ekonomi ASEAN. “Ini menunjukkan, mereka serius mau menjadikan generasi-generasi muda Thailand agar mengambil bagian di AEC nanti,” tukas Kresna.

Maka, mengejar ketertinggalan adalah hal yang mutlak dilakukan. Jenny menyarankan, agar setiap orang segera meningkatkan kemampuan berbahasa asingnya.

“Apapun profesinya. Mulai pelajar, mahasiswa, tukang bangunan, supir, guru, segera tingkatkan kemampuan. Belajar sesuai porsinya,” ujarnya. Setidaknya, setiap orang mulai terpacu untuk bisa berkomunikasi sesuai kadar interaksinya kelak ketika bertemu dengan orang asing.

Jenny pun mengapresiasi penuh keberadaan Rumah Bahasa. Menurutnya, Rumah Bahasa bakal membantu mempercepat belajar bahasa asing warga Surabaya berdasarkan kebutuhan masing-masing pekerjaannya.

“Itu bagus. Surabaya bisa jadi contoh bagi kota lain dalam mempersiapkan warganya tahun 2015 nanti,” katanya.(wh)