Kelola Teluk Lamong, Pelindo III Dapat Konsesi 72 Tahun

Kelola Teluk Lamong, Pelindo III Dapat Konsesi 72 Tahun
(ki-ka) Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Perak Wahyu Widayat, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby R. Mamahit, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto, Direktur Utama Pelindo IV Mulyono.foto: humas pelindo III

Kementerian Perhubungan melalui Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak Surabaya, Wahyu Widayat telah bersepakat dengan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III yang diwakili Direktur Utama Djarwo Surjanto dalam perjanjian konsesi pengusahaan Terminal Teluk Lamong (TTL), Surabaya, Senin (18/5/2015).

Dengan perjanjian tersebut, Pelindo III sebagai Badan Usaha Pelabuhan (BUP) berhak melakukan kegiatan usaha di area konsesi TTL yang luasnya mencapai sekitar 380 hektar. Luasan tersebut sesuai dengan rencana pengembangan TTL tahap ultimate atau tahap akhir.

Dari luasan tersebut akan terdiri dari dua zona, yakni zona operasi langsung terminal seluas kurang lebih 140 hektar dan zona pendukung operasi seluas kurang lebih 240 hektar. Zona pendukung terbagi dalam zona logistik untuk depo dan sentra distribusi dan konsolidasi barang, zona industri untuk processing curah kering, dan zona industri untuk packaging dan supporting facillities terminal petikemas.

Pelindo III berhak mengusahakan TTL dengan jangka waktu konsesi selama 72 tahun terhitung sejak terbitnya surat Dirjen Perhubungan Laut tentang uji coba operasional di TTL pada 11 November 2014. Maka Pelindo III akan berkontribusi pada kas negara dalam Penerimaan Pajak Bukan Pajak (PNPB) sebesar 2,5 persen per tahun dari persentase pendapatan kotor terminal yang beroperasi secara semi-otomatis tersebut.

Terminal Teluk Lamong dibangun untuk mengantisipasi kondisi over capacity di Pelabuhan Tanjung Perak yang merupakan pelabuhan tersibuk kedua di Indonesia yang menjadi gerbang ekonomi kawasan timur negeri ini.

Pada tahap ultimate yang direncanakan terealisasi pada tahu 2025, terminal tersebut akan memiliki kapasitas lapangan penumpukan petikemas domestik dan internasional hingga 5 juta TEUs dengan mampu mengelola penumpukan curah kering yang mencapai 20 juta ton.

Terminal Teluk Lamong merupakan terminal berkonsep hijau atau green port pertama yang dimiliki Indonesia. Keberadaan terminal tersebut menjadi aksi Pelindo III menjawab hangatnya isu internasional tentang pengurangan emisi gas buang. Sejumlah peralatan modern di Terminal Teluk Lamong akan dioperasikan dengan bahan bakar gas sehingga ramah lingkungan. Selain itu juga sejalan dengan program pemerintah yang mendorong penggunaan bahan bakar gas. (wh)