Kelahiran Perusahaan Iklan Terbesar di Dunia Terancam

 

Kelahiran Perusahaan Iklan Terbesar di Dunia  Terancam

Kelahiran sebuah perusahaan periklanan yang diklaim bakal menjadi terbesar di dunia terancam. Harusnya, pada kuartal I-2014 ini, perusahaan yang merupakan hasil merger Omnicom Group Amerika Serikat dan Publicis Groupe Perancis ini sudah muncul.  Merger dua perusahaan raksasa  ini awalnya diprediksi dapat melahirkan perusahaan iklan terbesar di dunia. Maklum saja, gabungan dua perusahaan tersebut bernilai hingga USD 35 miliar atau Rp 403,6 triliun.

Tapi seperti dikutip dari CNN Money, Jumat (9/5/2014), usaha menggabungkan dua perusahaan raksasa tersebut tampaknya tidak berjalan mulus.

Omnicom Group dan Publicis Groupe menunda aksi merger tersebut mengingat banyak kesulitan dalam menuntaskan berbagai transaksi sesuai ketentuan waktu yang telah disepakati.

“Kami menemukan banyak tantangan dan risiko terkait budaya, kompleksitas perusahaan dan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh keuntungan dari kerjasama ini,” ungkap pihak manajemen Omnicom melalui akun Twitter-nya.

Kini masing-masing perusahaan tengah mempertimbangkan pembayaran biaya penundaan seiring dengan gagalnya usaha penggabungan dua bisnis iklan raksasa tersebut.

Sebelumnya, beberapa merger telah diumumkan dengan harga yang sangat tinggi dan hanya tinggal cerita belaka. Jika benar terjadi, perusahaan gabungan tersebut dapat bernilai hingga USD 35 miliar.

Sebagian besar perusahaan iklan diseluruh dunia digenggam salah satu dari empat perusahaan global. Omnicom dan Publicis merupakan dua diantara empat perusahaan besar tersebut.

Pada Juli 2013, dua perusahaan global itu mengumumkan rencananya untuk merger. Dalam pengumuman tersebut dikatakan, aksi merger keduanya dapat menguntungkan para kliennya seperti PepsiCo dan AT&T. Sementara dari sisi Omnicom, merger tersebut dapat menguntungkan Nissan dan Coca-Cola.

Namun kemudian, langkah bisnis yang diprediksi dapat selesai pada kuartal-IV 2013 atau kuartal-I 2014 ternyata masih belum terealisasi.

Pada Februari, CEO Omnicom John Wren mengungkapkan transaksinya sangat rumit dan butuh waktu jauh lebih lama dari yang telah diprediksi sebelumnya.

Meski demikian, Wren dan CEO Publicis, Maurice Lévy mengakui berbagai kendala yang muncul masih bisa diselesaikan meski terhitung cukup lambat. (lp6/ram)