Kekayaan Orang Kaya Asia Ungguli  Triluner AS dan Eropa

Para triluner di Asia sekarang menguasai aset lebih besar daripada para rival mereka di Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko), Eropa, dan kawasan-kawasan lain.

Menurut World Wealth Report yang diterbitkan kelompok konsultan Capgemini, harta para triliuner Asia melonjak 9,9 persen pada 2015, sementara lemahnya pasar ekuitas di AS dan Kanada menghambat pertumbuhan harta di kawasan Amerika Utara menjadi hanya 2,3 persen.

Sedangkan di Amerika Selatan, harta kaum triliuner di sana malah anjlok 3,7 persen, penyebabnya adalah volatilitas dan turbulensi pasar saham di Brasil. Pertumbuhan harta tirliuner di Eropa relatif stabil, yaitu 4,8 persen dengan dipimpin oleh Spanyol dan Belanda.

Dalam beberapa tahun terakhir, nilai bersih harta kelompok triliuner Asia memang terus meningkat. Nilai kekayaan kelompok terkaya di Asia naik menjadi USD 17,4 triliun pada 2015, dibandingkan USD 8,4 triliun pada sembilan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, nilai bersih harta kelompok terkaya di Amerika Utara meningkat menjadi USD 16,6 triliun dari USD 11,2 triliun.

Asia juga mengalahkan Amerika Serikat dalam hal jumlah triliuner pada 2014 dan peringkat mereka makin tinggi tahun lalu. Dari 5,1 juta triliuner yang ada di Asia pada 2015, sekitar 2,7 juta di antaranya berasal dari Jepang, dan 1 juta dari  China. Di Amerika Serikat saat ini terdapat 4,5 juta triliuner.

China mencatat pertumbuhan paling tinggi yaitu 16,2 persen tahun lalu, dan diperkirakan bakal terus meningkat beberapa tahun ke depan.

Kekayaan di Asia utamanya ditopang oleh jasa keuangan, produk teknologi tinggi, dan industri kesehatan. Selain itu, para triliuner kebanyakan berasal dari usaha baru (start-ups) dibandingkan usaha yang sudah lama mapan. “Sumber kekayaan itu lebih karena kewirausahaan,” kata Bill Sullivan, kepala intelijen pasar jasa keuangan di Capgemini.

Secara global, nilai kekayaan para triliuner ini meroket dari USD 16,6 triliun pada 1996 menjadi USD 58,7 triliun pada 2015, atau dalam rentang 19 tahun. Lonjakan itu terutama digerakkan oleh bangkitnya perekonomian dan manfaktur China. (cnn/bst)