Kedelai Melonjak, Produsen Tempe Menjerit

Kedelai Melonjak, Produsen Tempe Menjerit
Salah satu produsen tempe di jalan Tenggilis Surabaya III saat membuat tempe, Selasa (10/3/2015).

Kenaikan harga kedelai di sejumlah pasar tradisional yang mencapai Rp 8.500 per kilo gram (kg) berdampak pada lesunya tingkat produksi tempe di Surabaya. Meski tidak sampai berdampak pada kerugian, kenaikan harga kedelai berakibat pada menurunnya pendapatan produsen.

Diakui Zainal Arifin (37), produsen tempe di Jalan Tenggilis Lama III, Surabaya, selama ini sejak ada kenaikan harga kedelai berdampak pada pendapatannya. Meski begitu, Arifin tidak berani menaikan harga tempe atau mengecilkan ukuran produknya lantaran persaingan yang ketat antarpenjual tempe.

“Ini biasanya saya produksi 25 sampai 30 kg, sekarang turun jadi 20 kg per hari saja. Keuntungan saya juga tidak menentu,” katanya saat ditemui enciety.co, Selasa (10/3/2015).

Arifin mengeluh harga kedelai saat ini dirasa sangat membebani para produsen tempe. Biasanya harga kedelai impor Rp 7.200 sekarang naik menjadi Rp 8.000 hingga Rp 8.500 per kg. “Padahal semua produsen di sini itu memakai kedelai impor, tidak ada kedelai lokal,” jelasnya.

Arifin yang mengaku memasok tempenya di Pasar Kendangsari Surabaya ini menjual tempenya seharga seribu rupiah saja. Dengan ukuran yang lebih kecil ia menargetkan pasar kalangan ibu rumah tangga yang menginginkan harga murah.

“Saya pernah memasarkan harga di atas Rp 2 ribu juga tidak laku, masyarakat kita inginnya harga murah, itulah tempe yang enak bagi masyarakat,” sambungnya.

Sadikin, produsen tempe lainnya, mengaku belum merasakan dampak kenaikan harga kedelai di pasar tradisional. Ini karena pihaknya memiliki langganan distributor kedelai impor di Surabaya. Jadi kenaikan harga kedelai yang terjadi di pasar tradisional tidak akan berdampak langsung pada produksi tempenya.

“Setiap hari saya produksi 140 kg tempe. Saya mengambil kedelainya di pengusaha impor di kawasan Tenggilis Surabaya. Harganya masih stabil Rp 7.100 per kg, belum mengalami kenaikan hingga Rp  8.000,” katanya.

Dalam sehari Sadikin bisa memproduksi ratusan bungkus tempe dengan berbagai ukuran dan harga. Mulai dari harga Rp 2.500 hingga Rp 7 ribu per bungkus. Tempe-tempe yang ia produksi ini ia distribusikan ke sejumlah pasar tradisional, di antaranya Pasar Wonokromo dan Pasar Keputran.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag)Kota Surabaya, Widodo Suryantoro mengatakan bahwa sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya kenaikan harga kedelai di Surabaya. Terkait pemantauan fluktuasi harga kebutuhan pokok Widodo mengaku mendapatkan dari Bagian Perekonomian Pemerintah Kota Surabaya.

“Memang biasanya produksi tempe di musim penghujan akan melesu, karane daya beli masyarakat juga turun. Tapi saya lihat sampai saat ini belum ada kenaikan harga kedelai di pasar tradisional,” terang dia. (wh)