Kebutuhan Perumahan Baru Menyesuaikan Lifestyle

 

Kebutuhan Perumahan Baru Menyesuaikan Lifestyle

Kebutuhan perumahan tahun ini dipastikan akan semakin besar. Hal ini seiring dengan pertambahan penduduk dan jumlah keluarga baru. Pengembangan perumahan baru pun dipastikan bakal tersebar di luar kota-kota besar.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya menegaskan, industri perumahan saat ini merupakan salah satu pendongkrak ekonomi di Jawa Timur.

Pertumbuhan industri perumahan tahun 2013 jauh di atas pertumbuhan di tahun 2012. Hal ini bisa dilihat dari beberapa indikator. Seperti meningkatnya indeks penjualan eceran bahan bangunan, Indeks Harga Properti Residensial, dan angka pertumbuhan KPR di atas 35 persen atau mencapai lebih darp Rp 3 triliun.

“Semua ini,mengindikasikan tumbuhnya bisnis properti di Indonesia. Namun, dibandingkan sektor-sektor lainnya sehingga tidak perlu khawatir terjadi bubble,” kata Kresnayana Yahya dalam diskusi terbatas dengan pengurus Real Estat Indonesia (REI) Jawa Timur, beberapa waktu lalu

Saat ini, data kepemilikan rumah yang ditempati penduduk di Jawa Timur untuk rumah milik sendiri 88,13 persen, dinas 5,75 persen, kontrak/sewa 4,47 persen, dan milik orang tua/saudara 1,65 persen. meskipun terlihat besar, porsi penyaluran kredit ini masih relatif kecil

Dalam perkembangannya, sambung dia, masyarakat tidak hanya membutuhkan tempat untuk tinggal. Pengembang juga harus ikut memikirkan bagaimana memberikan kenyamanan hidup di perkotaan. Hunian sekarang harus bisa mengakomodir berbagai macam kebutuhan dan mengatasi problematika sosial di masyarakat.

“Tumbuhnya bisnis properti juga akan diikuti pertumbuhan bisnis lainnya. Banyak sekali industri ikutan dari industri properti, seperti industri bahan baku alam, pabrikasi, furniture, elektronik, peralatan rumah tangga, PDAM, dan lain-lain. Tentu, ikutan yang paling besar adalah bisnis retail,” jelas dosen statistik ITS Surabaya ini.

Di sisi lain, kata Kresnayana, ketersediaan lahan tanah bagi perumahan merupakan bahan baku utama. Berbeda dengan material, semen, dan pendukung perumahan lainnya. Diperlukan pilihan jenis rumah di kota yang padat.

“Tanah menjadi kunci. Makanya, perlu upaya dan inovasi untuk mengatasi keterbatasan lahan,” tandas alumnus ITS Surabaya ini.

Menurut dia, dengan makin terbatasnya lahan, maka model apartemen dan rumah susun ini akan menjadi pilihan. Termasuk perumahan yang sesuai dengan tata kelola lingkungan.

Hingga sekarang, kecenderungan pengembang membangun apartemen cukup tinggi. Dia lalu mencontohkan kepemilikan tanas tanah 2.000 meter persegi. Jika dibangun perumahan lahan sebesar tersebut  cukup untuk 5 hingga 6 unit. Namun dengan membangun apartemen, tanah 2.000 meter persegi  bisa untuk 50–80 unit. Hal ini akan menjadi pertimbangan penting untuk masa depan.

Begitu pula dengan rumah susun. Saat ini, masyarakat sudah familiar dengan rumah susun sewa (rusunawa) dan rumah susun hak milik (rusunami). Tren ini tidak bisa didorong terlalu cepat, tapi juga tidak mungkin dihambat.

“Perumahan adalah hak ekonomi masyarakat. Tidak seharusnya properti itu semata-mata demi bisnis, tapi harus memenuhi kewajiban memberikan hunian bagi masyarakat,” pungkasnya. (wh)