Kebijakan Nasional Perburuk Inflasi Jatim 2013

Kebijakan Nasional Perburuk Inflasi Jatim 2013
Kepala BPS Jatim, M Sairi Hasbullah saat memberikan keterangan, Kamis (2/1/2014)

Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat inflasi Januari-Desember 2013 sebesar 7,59 persen. Angka ini menorehkan inflasi yang lebih rendah dari inflasi nasional 8,38 persen. Serta menunjukkan lonjakan signifikan dibanding bulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,19 persen. Meskipun terhitung lebih baik dari nasional, tercatat beberapa kebijakan pemerintah yang memicu tingginya inflasi Jatim.

“Inflasi di sini sebagian besar diakibatkan kebijakan nasional, bukan pemprov,” ujar Kepala BPS Jatim M Sairi Hasbullah di Surabaya, Kamis (2/1/2013).

Sairi merinci, sepanjang 2013, Jatim mengalami 8 kali inflasi dan 4 kali deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada Juli 2013 sebesar 2,96 persen. Pasca pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar minyak 22 Juni 2013, dampaknya pada sektor transportasi mulai terasa. Tarifnya kian naik, terlebih lagi saat bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

“Sejak harga BBM dinaikkan 40 persen, efek dominonya mengakibatkan kenaikan harga kelompok bahan makanan,” ujarnya. Yang paling signifikan ialah kebijakan pemerintah mengurangi kuota daging impor.

Kebijakan pusat tersebut menyebabkan spekulasi dan boikot para impor sapi. “Stagnasi ketersediaan daging di pasar berkurang, bahkan sempat kosong. Harga sampai menyentuh angka Rp 90.000,- sampai Rp 100.000,-,” tambahnya. Tak ketinggalan melemahnya nilai rupiah yang menyentuh Rp 12.000 per 1 dolar.

Sementara dari kelompok pengeluaran, bahan makanan memberikan andil sebesar 0,37 persen dengan laju inflasi tercatat sebesar 1,56 persen. Berdasarkan komoditasnya, tercatat 10 komoditas yang terbanyak menyumbang inflasi. Di antaranya tomat sayur, telur ayam ras, daging sapi, cabe rawit, angkutan udara, tarif kereta api, bahan bakar rumah tangga, ketimun, bawang merah, dan minyak goreng.

Selain disebabkan oleh kenaikan harga bahan ­bahan makanan, laju inflasi Desember 2013 juga didorong kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang mengalami inflasi sebesar 0,34 persen dengan sumbangan inflasi sebesar 0,07 persen.

Sedangkan sepuluh komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap terjadinya deflasi sepanjang tahun 2013 adalah turunnya harga  emas perhiasan, bawang putih, gula pasir, ikan gurami, telepon seluler, buah salak, minyak goreng, pepaya muda, gula merah, dan kol putih/kubis.

Dari tahun ke tahun, inflasi Jatim pada Desember 2013 merupakan yang tertinggi selama lima tahun terakhir, yakni mulai 2009 hingga 2012. Laju inflasi Jatim tercatat masing ­masing 3,62 persen, 6,96 persen, 4,09 persen, dan 4,50 persen. (wh)