Kebijakan Impor Bawang Merah Ditolak Petani Lokal

Kebijakan Impor Bawang Merah Ditolak Petani Lokal

 

Para petani bawang merah di wilayah Jawa menolak kebijakan pemerintah yang merekomendasi masuknya bawang merah impor ke Indonesia sebanyak 75.762 ton pada semester I tahun 2014. Impor bawang merah dinilai akan menghancurkan petani karena mengakibatkan harga bawang merah lokal anjlok.

Penolakan tersebut menjadi kesepakatan para petani pada acara Pertemuan Petani dan Pedagang Bawang Merah se-Jawa, di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2014).

Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia Juwari mengatakan, pada 2014, Kementerian Perdagangan merekomendasikan impor bawang merah 75.762 ton pada semester I yang turun pada Januari hingga Maret.

Sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 118/PDN/KEP/10/2013 tentang Penetapan Harga Referensi Produk Hortikultura, penetapan impor bawang merah didasarkan pada referensi harga. Jika harga mencapai Rp 25.500 per kilogram (di tangan konsumen) dan Rp 12.500 per kilogram (di tangan produsen/petani), dilakukan impor.

Menurut Juwari, kebijakan impor hortikultura berdasarkan referensi harga tersebut merupakan kebijakan yang menyakiti rakyat, terutama petani bawang merah. Hal itu karena bawang merah mempunyai fluktuasi harga yang tajam. ”Hari ini Rp 12.500 per kilogram, besok bisa Rp 7.500 per kilogram, besok lagi bisa Rp 25.000 per kilogram,” katanya.

Selain itu, harga bawang merah di setiap daerah berbeda. Harga bawang merah di Brebes berbeda dengan harga bawang merah di Jakarta ataupun Banjarmasin. ”Jadi, harga yang ditetapkan (sebagai acuan) yang di mana? Terus yang diajak mendata siapa?” tambahnya.

Menurut Juwari, pemerintah tidak pernah mengajak asosiasi bawang merah untuk menentukan harga referensi tersebut. Padahal, seharusnya impor didasarkan pada ketersediaan produksi dalam negeri dibandingkan dengan tingkat kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan data ABMI, rata-rata produksi bawang merah nasional mencapai 1 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan rata-rata nasional sekitar 680.000 per tahun. Puncak produksi bawang merah pada Juni hingga Agustus yang mencapai 350.000 ton. Adapun pada bulan Desember hingga Januari mencapai 200.000 ton.

Korporasi

Investasi pertanian pangan terintegrasi dalam skala luas (food estate) di luar Jawa oleh korporasi dipandang sinis para petani. Pengalaman kelam petani yang tertipu korporasi karena kehilangan lahan pertanian mereka dengan modus kerja sama pengelolaan lahan masih menghantui para petani.

Menurut Komisaris PT Pramana Nusa Agri Jimmy Halim di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, pekan lalu, pengalaman masa lalu petani bekerja sama dengan korporasi memasuki babak kelam.

”Lahan petani yang diserahkan ke korporasi malah dijadikan agunan ke bank. Dana yang diperoleh dari bank kemudian dipakai untuk investasi di tempat lain,” jelasnya.

Dalam perjalanan waktu, investasi tersebut belum tentu berhasil. Tanah petani yang dijadikan jaminan kredit akhirnya diambil alih perbankan. (kps/bh)