KBS Darurat Kandang

KBS Darurat Kandang
Satwa di KBS mulai membludak dan membutuhkan kandang yang lebih layak.

Permasalahan persengketaan aset Perusahaan Daerah Taman Satwa kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) berdampak serius pada kesehjateraan satwa. Ini karena surplus kelahiran satwa di PDTS KBS tidak diimbangi dengan ketersediaan kandang sehingga membuat KBS sedang mengalami darurat kandang.

Plt. Direktur Utama PDTS KBS, Aschta Nita Boestani Tajudin menjelaskan, satwa membutuhkan replika dengan habitat alamnya. Ini sesuai dengan prinsip kesehjateraan satwa dari Lembaga Konservasi (LK) Kementerian Kehutanan yang diterima PDTS KBS pada tahun lalu.

“Sesuai prinsipnya kita harus memberikan kesehjateraan bagi satwa di KBS. Satu di antaranya adalah dengan memberikan replika alam sesuai habitatnya. Karena jumlah satwa sudah sangat banyak, kita membutuhkan kandang yang proporsional,” jelasnya ketika ditemui enciety.co di kantornya, Selasa (19/3/2015).

Saat ini, kata Aschta jumlah satwa yang berada di KBS sudah mencapai 2.300. Itu terdiri dari empat kelas dan berada di atas lahan seluas 15 hektar saja. Karena keterbatasan lahan ini sejumlah spesies dikhawatirkan stres karena tidak sesuai dengan habitatnya.

“Seperti komodo, saat ini koleksi kami mencapai 82 ekor. Ini setelah kita mendapatkan 12 ekor komodo yang baru menetas beberapa waktu yang lalu. Jadi, sebenarnya kita butuh tempat lagi yang lebih luas, karena sementara ini kandang KBS hanya seluas 5 kali 20 meter saja,” gamblangnya.

Bahkan, diakui Aschta, karena keterbatasan kandang ini membuat 17 ekor komodo usia 1 hingga 2 tahun yang harusnya siap dilepas ke kandang replika alam terpaksa ditempatkan di sebuah aquarium seluas 1 kali 1,5 meter saja. Padahal komodo kata Aschta juga membutuhkan matahari untuk berjemur.

“Jadi sementara ini untuk menyesuaikan iklim endemiknya kami membawa keluar masuk komodo untuk mendapatkan sinar matahari. Kami khawatir air liurnya yang penuh bakteri itu akan berdampak pada kesehatannya jika komodo tidak dijemur,” bebernya.

Di habitat alamnya, komodo sering menjemur tubuhnya tepat di bawah terik matahari. Aschta memperkirakan, ini dilakukan komodo agar penyebaran bakteri dalam air liurnya tidak sampai di tubuhnya dengan cara menstabilkan suhu tubuh agar tetap kering.

“Penting bagi kita untuk mempertahankan perilaku alam setiap satwa. Jadi kami tugaskan petugas khusus yang telaten dan yang bisa merawat bayi satwa,” ungkapnya.

Selain komodo, Aschta juga membeberkan, sejumlah satwa lainnya seperti burung Pelikan atau burung Undan Kacamata juga mengalami overload volume. Meski tidak dilindungi, tapi satwa tersebut jumlahnya sudah mencapai 60 ekor dibanding luas kandang yang tidak seberapa.

“Sejumlah satwa lain yang mengalami over load adalah Bekantan, Kijang, dan Rusa. Sedangkan untuk Harimau Sumatera dan Gajah itu harus segera di breeding program sehingga tidak terjadi inces atau perkawinan dalam satu keturunan,” jlentrehnya.

Tapi karena persengketaan aset yang tak kunjung selesai membuat Aschta bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak bisa berkutik dengan kenyataan ini. Padahal harusnya satwa-satwa yang sudah melebihi kapasitas kandang ini harusnya dilakukan pertukaran secara transparan dengan LK lainnya.

“Saya berahap persengketaan aset ini bisa cepat selesai. Karena sangat mempengaruhi kesehjateraan satwa. Ini juga berpengaruh pada program-program yang selama ini kami rencanakan terpaksa tidak bisa berjalan dengan lancar. Padahal saat ini KBS juga membutuhkan perbaikan kandang,” terang dia. (wh)