KBS Bakal Pasang CCTV Pekan Ini

KBS Bakal Pasang CCTV Pekan Ini

 

Kematian beruntun satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) membuat pemerintah kota Surabaya bergerak cepat. Upaya pengamanan berupa pemasangan closed-circuit television (CCTV) akan dilakukan minggu ini.

Direktur Utama KBS, Ratna Achjuningrum, mengatakan KBS mendapat bantuan nasihat teknis pemasangan dari Dinas Komunikasi dan Informasi Jawa Timur. Sementara, anggaran pemasangan kamera berasal dari Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) yang mendapat suntikan dana pemerintah kota Surabaya.

Ratna mengungkapkan, rencana pemasangan CCTV di KBS telah diupayakan sejak pengambilalihan pengelolaan Juli 2013 lalu. Namun rencana pemasangan tersebut sempat menuai protes dari sejumlah karyawan KBS. Mereka menolak lantaran merasa bukan sebagai penjahat yang harus diawasi terus kinerjanya.

“Karena protes itu akhirnya pemasangan CCTV ditunda. Sampai kejadian matinya Michael yang tidak wajar tanpa diketahui siapapun itu,” ujar Ratna.

Pemasangan kamera intai itu, lanjut Ratna, akan terintegrasi antara satu dengan lainya dalam merekam kondisi tiap kandang. Ini berarti kamera pengintai itu akan saling mengawasi sehingga meminimalisir terjadinya sabotase terhadap satu CCTV lainnya.

Direktur Keuangan PD Taman Satwa KBS, Fuad Hasan mengatakan akan memasang 52 kamera. Tepatnya di beberapa kandang satwa, titik rawan, dan kantor sekretariat KBS. “Kandang satwa di KBS lebih dari 70 kandang. Tapi setiap kandang tidak harus dipasang CCTV. Karena ada beberapa yang tergabung di satu lokasi, jadi bisa diintai dengan satu kamera saja,” ujarnya.

Sementara kematian kambing gunung (oreamnos americanus), Selasa (14/1/2014) lalu,  ditengarai ada dua sebab. Bisa karena diseruduk kambing gunung yang lebih tua. Kedua, diseruduk oleh rusa tetangganya

Humas PD Taman Satwa KBS Agus Supangkat menegaskan hal itu, Rabu (15/1/2014). Kambing berusia enam bulan tersebut ditemukan mati pada Selasa, 14 Januari 2014 pukul 17.30. Bangkainya dipergoki oleh salah satu petugas Satpol PP saat berpatroli.

Hasil otopsi, pihak KBS menemukan luka memar di bagian kiri leher satwa berusia 6 bulan tersebut. Tanda-tanda itu dianggap bukan hal yang misterius. Sebab karakternya memang lincah dan aktif bergerak.

Sementara itu, organ dalam seperti usus dan paru-paru menunjukkan kondisi normal. Tak ada tanda-tanda keracunan. “Tidak ada yang misterius. Ini bisa saja dia korban tetangganya yang kondisi kandangnya memang berdekatan dengan rusa. Jadi, bisa karena diseruduk rusa,” kata Direktur Operasional Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS, drh Liang Kaspe.(wh)