Kasus MH370 Pukul Pariwisata Asia Tenggara

Kasus MH370 Pukul Pariwisata Asia Tenggara

 

Tak kunjung ditemukannya Pesawat Malaysia Airlines MH370  mulai berdampak pada industri pariwisata Asia Tenggara (Asteng). Menurut laporan Bank of America-Merill Lynch, peristiwa ini dapat memukul sektor pariwisata Asia Tenggara. Khususnya kunjungan Wisman dari China.

Laporan itu menyebut juga China menyumbang 12 persen wisatawan ke Malaysia termasuk warga China yang berdomisili di Singapura. Pihak maskapai dan pemerintah Malaysia didesak pihak China untuk mempercepat pencarian pesawat Malaysia Airlines yang hilang.

“Saya dapat mengatakan 80 persen wisatawan korporat akan memilih mengubah jadwal untuk saat ini. Seiring berjalannya waktu, wisatawan akan perlahan menghilangkan rasa takut ini. Dalam saat-saat sekarang ini, Malaysia Airlines butuh upaya agresif untuk kembali membangun kepercayaan konsumen, kepercayaan diri, dan reputasi,” kata Direktur Komunikasi Dynasty Travel Alicia Seah di Singapura seperti dikutip dari Reuters, Minggu (16/3/2014).

Operator bandara Malaysia dan pihak Malaysia Airlines menolak berkomentar apakah mereka melihat bukti adanya pembatalan perjalanan. Sementara itu Manajer Komunikasi Pemasaran agen perjalanan Singapura Chan Brothers Travel Jane Chang mengatakan pihaknya belum memperoleh telepon dari pelanggan terkait permohonan penjadwalan ulang perjalanan.

Sekedar informasi, kerugian maskapai Malaysia Airlines membengkak 171 persen pada tahun 2013 menjadi 1,17 miliar ringgit atau setara USD 355,84 juta dibandingkan tahun 2012 sebesar 431 juta ringgit.

Telah diprediksi sebelumnya, bahwa tahun 2014 adalah tahun yang berat karena ada persaingan dengan maskapai penerbangan bertarif murah (low cost carrier). Wisatawan China yang melancong ke Asia Tenggara telah melonjak hampir 7,4 juta wisatawan pada tahun 2012 atau 10 persen dari total wisatawan.

Menurut data Bank of America-Merrill Lynch, kedatangan wisatawan China ke kawasan hanya mencapai 1,9 juta orang. (ram)