Kita Butuh Kartini-Kartini yang Bisa Pecahkan Problem Sosial

Kita Butuh Kartini-Kartini yang Bisa Pecahkan Problem Sosial

Diyan Wahyuningsih (aktivis Save the Children) dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (15/4/2016). Foto: arya wiraraja/enciety.co

Hari Kartini yang diperingati pada 21 April kini kehilangan esensinya sebagai hari peringatan perjuangan bagi perempuan untuk dapat maju dan menghadapi perkembangan zaman. Karena kita butuh Kartini-Kartini modern yang dapat memelopori dan memecahkan masalah sosial.

Karena saat ini kita tak lagi menemukan ketimpangan terhadap pemenuhan hak antara laki-laki dan perempuan. Untuk itu, perempuan Indonesia harus mampu memecahkan masalah sosial yang dihadapi oleh bangsa ini, di antaranya jadi pelopor penyetaraan kesempatan penyandang disabilitas dan kelompok termaginalkan,” tutur Diyan Wahyuningsih, aktivis Save the Children, saat mengisi acara Perspective Dialogue  bertajuk Kartini Modern: Mempelopori dan Memecahkan Masalah Sosial, di Radio Suara Surabaya, Jumat (15/4/2016).

Kata dia, sistem identitas kelompok marginal sebenarnya ada. Namun mereka tidak memiliki data identitas, sehingga keberadaan mereka dianggap tidak ada oleh lingkungan sekitar. Kebanyakan mereka yang mengalaminya adalah warga pendatang di kota-kota besar seperti Surabaya.

Menurut dia, masyarakat kategori marginal tersebut tidak mendapatkan akses dalam hal pendidikan. “Untuk mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah mereka tidak memiliki surat-surat sah yang dijadikan persyaratan. Mereka memiliki keterbatasan akses pendidikan, akses pilihan pekerjaan yang mereka dapatkan juga terbatas. Kebanyakan mereka bekerja seadanya,” papar dia.

Diyan menuturkan, banyak kasus menyayat hati yang berawal dari hal tersebut. Contohnya, kebanyakan mereka yang termasuk dalam golongan marginal menjadi pekerja seks komersial (PSK) dan lain sebagainya.

“Kebanyakan kasus yang kami tangani adalah perempuan-perempuan dari luar Surabaya. Mereka memiliki masalah keluarga, bercerai dari suaminya. Mereka yang tidak memiliki status dan keakhlian jelas itu memilih untuk menetap, sehingga untuk bertahan hidup mereka melakukan berbagai hal,” urai dia.

Untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, Diyan mengatakan jika pihaknya sering turun ke lapangan dengan memberikan berbagai penyuluhan.

Contohnya, pada 2008 lalu, ia pernah membantu seorang anak 14 yang terjebak di lokalisasi Dolly. Ceritanya, anak yang berasal dari luar daerah Surabaya itu dijanjikan bekerja di kafé dengan gaji Rp 3 juta.

“Identitas si anak dibawa oleh sang mucikari, sehingga kami kesulitan. Ditambah lagi si anak ini dilindungi oleh semacam sindikat yang membuatkan identitas palsu dengan umur yang jauh lebih tua,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, untuk membantu sang anak, pihaknya membuat semacam skenario untuk melarikan si anak agar dapat lepas dari lingkaran setan yang menjeratnya selama ini. “Saat itu, kami melarikan si anak dan berhasil mengembalikannya ke keluarganya di Batam,” paparnya.

Mulai tahun 2007 hingga 2008 ada sekitar 60 anak yang telah diselamatkan Save The Children. Isu-isu yang sering ia perjuangkan adalah pekerja-pekerja anak, contohnya seperti pekerja rumah tangga anak dan anak jalanan.

“Selain itu, saat ini kami juga konsen dengan pemberian pembekalan dan pelatihan untuk tenaga-tenaga pendamping kesehatan bagi ibu mengandung, ibu menyusui dan ibu pengasuh bagi tumbuh kembang anak yang berada di Sidoarjo dan Malang,” ungkap Diyan Wahyuningsih, aktivis Save the Children.

Masalah-masalah yang mendera anak-anak tersebut butuh penanganan serius, tidak bisa setengah-setengah. Karenanya dibutuhkan kekuatan besar untuk memutus mata rantai adanya jaringan yang memanfaatkan keberadaan orang-orang terpinggirkan. (wh)