Kalla Group Bangun Smelter Rp 500 Miliar

Kalla Group Bangun Smelter Rp 500 Miliar

Kalla Group melihat prospek bagus terkait aturan pemerintah tentang aturan mineral dan batubara atau bisasa disebut “minerba”. Kelompok Kalla bakal membangun smelter di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.

Pembangunan pengolahan dan pemurnian nikel ini sebagai upaya Kalla Group membantu pemerintah mengimplementasikan UU nomor 4/2009 tentang Mineral dan Batubara.Lima daerah menjadi lokasi pembangunan smelter.

Andi Asmir, Corporate Communications Kalla Group, mengatakan, pihaknya akan memulai pembangunan di Palopo sebagai tahap awal dengan investasi sekitar Rp 500 miliar.

“Empat daerah lain belum bisa kami sebutkan. Yang sudah siap ini di Palopo,” ujarnya.

Pembangunan smelter di Palopo melalui anak usahanya, PT Bukaka Mandiri Sejahtera, segera dimulai setelah proses analisis dampak lingkungan (amdal) dan desain selesai.

Untuk amdal ditargetkan rampung bulan ini. Sementara untuk desainnya sudah masuk dalam tahap finalisasi. Jika semuanya sudah rampung maka pembangunan smelter sudah mulai dilakukan.

“Tidak lewat dari semester I tahun ini. Sementara lama proyeknya itu bervariasi, ada dua tahun,” katanya.

Smelter ini dibangun di atas lahan sekitar 100 hektare dan diharapkan akan memproduksi Ferro Nickle sebesar 14 ribu ton per tahun.

Asmir menambahkan pembangunan smelter sebagai respon positif atas UU yang dikeluarkan pemerintah itu.

“Kami membantu pemerintah dalam implementasi UU Minerba. Kami mencoba menyelenggarakan (membangun) lebih awal dibanding pihak swasta,” jelasnya.

Listrik dari PLTA Poso

Investasi yang dikeluarkan Kalla Group untuk pembangunan smelter di Palopo tidak begitu besar. Hal ini karena smelter tersebut ditopang pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kalla Group di Poso.

“Kalau dihitung bersama pembangkitnya bisa mencapai triliunan. Tapi kan kami punya gardu induk di Palopo dan ini akan mendapat suplai aliran listrik dari Poso,” katanya.

Dia menjelaskan, infrastruktur yang dibangun Kalla sebelumnya akan memudahkan industri masuk dan melakukan investasi. “Kalau infrastrukturnya bagus, maka industrinya pun akan ikut,” ujarnya. (tri/bh)