Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 797 M

 

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 797 M

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPTS), Rabus (14/5/2014), membagikan dividen tunai sebesar Rp797 miliar.

Pembagian dividen sebesar Rp 17 per saham yang setara dengan rasio pembagian dividen sebesar 40 persen atas laba bersih tahun buku 2013. ‪

“Sejalan dengan komitmen Kalbe untuk memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham, perseroan akan membagikan dividen sebesar Rp797 miliar,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan, Vidjongtius di Jakarta, Rabu (14/5/2014).

Dia melanjutkan, walaupun perseroan membutuhkan dana yang cukup signifikan untuk membiayai belanja modal dan modal kerja tahun ini, perseroan tetap membagikan dividen sesuai dengan ketersediaan kas.

Secara rasio, pembagian dividen mencapai 40 persen dari laba bersih 2013. “Di masa mendatang, perseroan mempertahankan kebijakan untuk membagikan dividen sekitar 50 persen dari laba bersih, dengan mempertimbangkan rencana pengembangan dan kebutuhan dana perseroan,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk triwulan I-2014, Kalbe Farma dan entitas anak mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp4 triliun. Angka ini  tumbuh 17,65 persen dibanding kuartal I/2013 sebesar Rp3,4 triliun.
“Kami menilai kondisi makroekonomi yang lebih kondusif akan memberikan dampak positif terhadap kinerja kami,” kata Vidjongtius.

Dia menjelaskan, sesuai rencana,  perseroan telah melakukan peningkatan harga secara selektif pada akhir kuartal I/2014. Secara keseluruhan, Kalbe telah mencatat awal yang baik untuk merealisasikan target pertumbuhan penjualan tahun 2014 sebesar 14-16 persen jika kondisi makroekonomi tetap kondusif. “Pertumbuhan penjualan terutama didukung oleh pertumbuhan volume,” ujar dia.

Sementara laba bersih bertumbuh sebesar 11 persen dibandingkan kuartal I/2013 menjadi sekitar 492,8 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih perseroan sebesar Rp444 miliar. 

Dia menjelaskan, pertumbuhan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan, antara lain disebabkan menurunnya marjin laba kotor akibat dampak depresiasi kurs rupiah serta adanya sedikit peningkatan biaya operasional. ‪Nilai tukar rupiah tercatat melemah dari Rp9.719 per 31 Maret 2013 menjadi Rp11.404 per 31 Maret 2014.

Pada tahun 2014, perseroan mentargetkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih sebesar 14-16 persen, dengan marjin laba usaha sekitar 16,0-17,0. Sementara laba bersih saham diperkirakan tumbuh sekitar 15–17 persen di luar dampak dari translasi kurs mata uang asing. (snd/ram)