KAI Perpanjang Relasi Kereta Existing untuk Tekan Idle Time

 

KAI Perpanjang Relasi Kereta Exisiting untuk Tekan Idle Time

 

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mendorong pendapatan dengan memperpanjang empat relasi dari rute existing. Keempat rute ini mulai efektif dilakukan pada 5 Februari guna mengurangi idle time (waktu tidak terpakai) cukup panjang.

 

Keempat kereta yang dikenalkan itu adalah KA Bima relasi Jakarta-Surabaya Gubeng (eksekutif) diteruskan hingga ke Malang. KA Sarangan relasi Surabaya Gubeng-Madiun, KA Maharani Surabaya Pasar Turi-Cepu, dan KA Probowangi relasi Banyuwangi-Probolinggo.

 

Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 8, Sri Winarto menyatakan, keempat kereta itu meneruskan rute existing. “Seperti KA Sarangan sebelumnya KA Mutiara Selatan relasi Surabaya Gubeng-Bandung. Demikian juga KA Maharani existing adalah KA Kertajaya (ekonomi), Surabaya Pasar Turi-Jakarta, dan Probowangi diteruskan hingga Gubeng,” urainya, Selasa (4/2/2014).

 

Sri Winarto menjelaskan, Seperti KA Bima setiba dari Jakarta, KA ini menunggu kembali ke Jakarta hampir 12 jam. Dengan diteruskan ke Malang, penggunaan kereta semakin baik, idle time bisa dikurangi, pendapatan juga bertambah.

 

Tentu saja dengan melanjutkan relasi ini, PT KAI Daops8 menargetkan load factor (tingkat keterisian tempat duduk) mencapai 80 persen. “Kita optimistis, meski 80 persen cukup tinggi,” tegas Sri Winarto.

 

PT KAI Daops8 telah menetapkan harga tiket untuk keempat kereta anyar itu. KA Bima Relasi Malang-Surabaya sebesar Rp 30.000, KA Sarangan Rp 25.000-Rp 40.000, KA Maharani Rp 15.000, dan Probowangi Rp 20.000.

 

Dengan target 80 persen load factor, pendapatan yang diharapkan PT KAI Daops8 bisa mencapai Rp 30,7 juta untuk sekali perjalanan dari keempat kereta itu. Dengan asumsi tiap-tiap kereta dipatok 80 persen, sementara harga tiket bervariatif dan total tempat duduk juga tidak sama.

 

Seperti KA Bima memiliki tempat duduk hanya 250, KA Sarangan 360 seat, Maharani 700 seat, dan Probowangi 300 seat. Dengan harga tiket tersebut, dibarengi dengan target load factor 80 persen, asumsi pendapatan sebesar Rp 30,7 juta. “Kita tidak menghitung besaran dan prediksi pendapatannya. Tetapi memanfaatkan idle time untuk mendorong pendapatan,” sambungnya.

 

Khusus untuk KA Bima relasi Malang-Surabaya memakan waktu sekitar 2 jam. Jarak tempuh ini sama dengan KA Penataran Ekspres dengan harga tiket Rp 5 ribu lebih murah. Sri Winarto optimistis masyarakat akan mendapat kesempatan untuk memilih kereta dan jam yang sesuai.

 

KA Bima tidak akan mematikan Penataran dan Penataran Ekspres. Keduanya memiliki segmen tersendiri, dan masyarakat akan semakin mendapat suguhan, apakah memilih kereta eksekutif, ekonomi AC cepat atau ekonomi AC biasa,” tutupnya. (wh)