Kadin Jatim: Indonesia Perlu Terapkan Energi Terbarukan

Kadin Jatim: Indonesia Perlu Terapkan Energi Terbarukan
(ki-ka) Puguh Iryantoro (kanan) menjadi narasumber diskusi pemanfaat Energi Terbarukan di Graha Kadin, Kamis (6/11/2014).

Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat ini menyadarkan kita betapa pentingnya energi terbarukan untuk diterapkan di Indonesia. Energi terbarukan sebagai energi yang dihasilkan melalui proses alam berkelanjutan, seperti tenaga surya, tenaga angin, arus air, hingga panas bumi masih belum dikelola secara maksimal karena dianggap tidak penting.

“Negara ini kaya dengan berbagai macam energi terbarukan. Sayangnya kita masih belum maksimal mengelolanya,” kata Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Usaha Energi Terbarukan Kadin Jatim Puguh Iryantoro dalam acara diskusi pemanfaat Energi Terbarukan di Graha Kadin, Kamis (6/11/2014).

Menurut dia, masyarakat hingga saat ini masih bergantung dengan energi yang dihasilkan dari BBM. Sehingga ketika kemudian harga jual BBM dinaikkan, maka masyarakat sebagai pengguna utama langsung kelabakan. Kebingungan bagaimana harus menyikapinya.

“Ini yang harus dipahami oleh pemerintah dan masyarakat untuk dapat menggunakan energi terbarukan pengganti BBM,” terusnya.

Masih belum maksimalnya negeri ini mengelola sumber daya energi terbarukan yang ada, menjadikan negara lain yang mampu mengelola dengan maksimal menikmati keuntungan. Padahal masyarakat negeri ini juga tergolong tidak boros menggunakannya.

“Jika dibandingkan dengan Singapura, justru Indonesia sejatinya bukan negara yang boros menggunakan sumber energi terbarukan. Tetapi mengapa justru negara lain yang mampu mnegelola secara maksimal yang mendapatkan keuntungan,” terang Puguh Iriyanto.

Negara lain, lanjut Puguh memang tidak memiliki sumber-sumber energi terbarukan sebanyak dan sebesar Indonesia. Tetapi negara-negara lain itu memiliki keterampilan serta perangkat lengkap untuk mengelola energi-energi terbarukan.

Ia juga menyampaikan bahwa masih belum berhasilnya Indonesia mengelola dan memanfaatkan sumber energi terbarukan juga dipengaruhi masih mahalnya harga perangkat pendukung pengelolaannya, yang hingga hari ini masih cukup mahal beayanya.

Sementara itu, Kurniadi Winarso praktisi energi surya, menyampaikan bahwa harga dan ongkos pembangunan infrastruktur pengelolaan energi terbarukan, seperti tenaga surya, tenaga angin, arus air serta panas bumi memang masih sangat mahal dan besar harganya.

“Untuk perangkat pengelolaan sumber energi terbarukan, hingga saat ini memang masih cukup mahal. Beberapa komponen memang dapat diproduksi sendiri oleh Indonesia. Tetapi utuk perangkat utamanya masih harus impor dan harganya memang masih mahal,” kata Kurniadi Winarso.

Menggunakan system instalasi solar cell, kata Kurniadi, paparan sinar matahari memiliki kegunaan seperti energi listrik. Dikelola sedemikian rupa, maka paparan sinar matahari yang berlimpah dinegeri ini menjadi sangat bermanfaat bagi pengganti atau pendukung energi listrik yang sudah ada.

“Paparan sinar matahari, adalah juga sumber energi terbarukan. Di Indonesia, paparan atau sinar matahari sangat besar nilainya. Tetapi hingga saat ini masih belum fungsikan dan dikelola secara maksimal. Paparan sinar matahari seakan terbuang dengan sia-sia,” sambungnya. (wh)