Jutaan Umat Islam Salat Id di MAS

Jutaan Umat Islam Salat Id di MAS
Salat Id di Masjid Al Akbar Surabaya yang dibanjrii jutaan umat Islam, Jumat (17/7/2015). arya wiraraja/enciety.co

Jutaan umat Islam berbondong-bondong datang ke Masjid Al Akbar Surabaya (MAS) untuk melaksanakan Salat Idul Fitri 1436 Hijriyah, Jumat (17/7/2015),.

Pantauan enciety.co, selain dari Surabaya, banyak juga jamaah yang dari luar kota. Ini terlihat dari beragamnya plat nomor mobil yang terparkir di halaman dan jalan sekitar MAS. Ada beberapa kendaraan yang dengan plat nomor luar kota, di antaranya adalah S, W, B dan DK. Selain itu, jamaah yang datang pada tahun ini juga banyak, kurang lebih seperti tahun lalu.

Dalam khutbah shalat Idul Fitri, Prof Dr Mudjia Rahardjo, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengatakan, usai menjalankan ibadah puasa dan menyambut Lebaran, masyarakat harus dapat mempertahankan nilai kesucian batin yang didapat ketika bulan Ramadan.

“Di bulan Ramadan, manusia disucikan dengan cara menahan hawa nafsu dan godaan setan. Namun ketika masuk pada bulan-bulan biasa, kita tidak dapat mempertahankan kesucian tersebut,” paparnya .

Ia mengimbuhkan, pasca menjalani ibadah puasa, hendaknya manusia terus dapat meng-upgrade diri dengan berbuat baik antarsesama dan taat beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa.

“Pasca puasa, Lebaran dapat diartikan sebagai hari kemenangan, namun pengertiannya jangan disalahartikan menjadi kebebasan. Yang paling penting sebenarnya adalah pascapuasa, bagaimana kita dapat mempertahankan semua tingkah laku dan kebaikan kita selama 11 bulan ke depan,” jelaas dia.

Mudjia juga mengingatkan, pemuda yang ada jangan salah dan terjebak dengan pengertian kebebasan. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan berpikir yang didasari wawasan dan intelektual yang cukup. Kebanyakan, pemuda saat ini mengartikan kebebasan dengan makna kebebasan dalam bergaul dan bertingkah laku antarsesama. Mereka belum dapat mencermati pentingnya budaya dan adat istiadat yang ada di masyarakat.

“Perlu digaris bawahi, adat istiadat adalah hukum yang tidak tertulis, namun hukum tersebut ada dan berlaku dalam kehidupan sehari-hari,” tandas Mudjia.

“Jika mereka salah dalam mengartikan makna kebebasan dalam kerangka yang lebih sempit, yaitu kebebasan dalam bertingkah laku. Ini kemudian membuat para generasi muda kita akan kehilangan jati diri dan masa depannya,” imbuh dia. (wh)