Jurus Menunda Kesenangan

*Suwandono

Bila membahas business success stories di negeri ini, tentu ingatan kita akan tergiring pada komunitas Tionghoa. Hampir di semua bidang dan tingkatan, pencapaian sukses mereka tak terbantahkan lagi. Fakta tersebut patut jadi renungan kita semua karena pencapaian itu tentu ada sebab musababnya, tidak jatuh begitu saja dari langit.

“Sebenarnya, apa sih hebatnya orang-orang Tionghoa?” untuk menjawab pertanyaan macam itu, seluruh halaman koran ini pun takkan cukup untuk menjabarkannya. Namun, saya akan mengupas satu jurus ampuh yang biasa digunakan komunitas Tionghoa, yakni jurus menunda kesenangan.

Kalimat “menunda kesenangan” memang amat mudah diucapkan, akan tetapi tidak terlalu mudah penerapannya. Godaan segera menikmati kesenangan adalah hal manusiawi, siapa sih yang tidak ingin senang? Namun, apalah artinya kesenangan jika harus ditebus kepahitan dalam jangka panjang atau setidaknya harus mengorbankan kemungkinan pertumbuhan yang lebih baik. Mayoritas orang Tionghoa amat memegang teguh pemahaman itu. Terutama yang generasi “tua”.

Hal itu tidak lepas dari sejarah nenek moyang mereka mengarungi samudera luas untuk merantau ke segala penjuru dunia dengan tekad memperbaiki taraf hidup. Dengan segala keterbatasan, mereka tertatih-tatih mengayun langkah untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Jurus menunda kesenangan menjadi andalan mereka.

Loh, bukankah justru komunitas Tionghoa banyak yang gaya hidupnya mewah?” Bisa jadi pendapat itu benar. Namun, orang-orang yang bergaya hidup seperti itu kebanyakan sudah berada pada titik aman (passive income lebih besar dari biaya hidup), hingga merasa layak untuk menikmati gemerlapnya hidup. Tentu tidak semua orang Tionghoa bisa menerapkan jurus ini, tak sedikit pula yang salah dalam menghitung momentum yang tepat untuk mereguk kesenangan.

Dalam banyak kasus, rasionalitas kitasering terdesak oleh pertimbangan emosional, lebih-lebih jika dipengaruhi kebutuhan pengakuan/pujian dari orang lain, ingin tampak mapan padahal masih belum mapan. Ketika penghasilan bertambah besar, keinginan memiliki barang mewah (konsumtif) juga turut membesar. Bahkan, tak ragu mengambil kredit. Tidak terlintas ide untuk mengembang biakkan penghasilannya terlebih dahulu, lantas membeli barang konsumtif dari hasil ternak uangnya.